Sabtu, 05 Januari 2019

Cerita Dewasa Lesbi Suster Hot

Cerita Dewasa Lesbi Suster Hot

Hallo guyss, kali ini ada cerita dewasa dari salah satu akun gmail yang telah mengirimkan cerita sexnya agar bisa di publiskan. Akan tetapi nama akan menjadi privasi dan berubah jadi nama samaran ya guyss, selamat membaca para pecinta Cerita Sex. Seorang perawat yang baru saja bekerja bernama linawati, dengan umur yang sudah menginjak 22 tahun, dirinya telah baru saja lulus dari akademi perawat yang teletak di salah satu kota yang lumayan kecil di jawa timur. Akan tetapi setelah lulus saya telah mendapatkan pekerjaan di rumah sakit swasta besar dan juga ternama di salah satu kota Bandung, setelah satu bulan melewati masa training disanlah kisahku dimulai.

Saya tinggal di dalam rumah Tante, keseluruhannya saya telah tinggal 6 bulan di kota ini untuk mencari kerja, untunglah pada akhirnya saya mendapatkan pekerjaan di Rumah Sakit itu. Menjadi orang baru di Rumah Sakit ini, saya banyak mendapatkan rekan serta kenalan baru. Diantaranya ialah Kepala Bangsal Bedah, atasan saya langsung, di mana saya diletakkan. Ibu mega kami memanggilnya, umurnya hampir 40 tahun, namun sampai saat ini belumlah menikah pun, meskipun jika saya lihat sebetulnya Kepala Bangsal saya ini mukanya cantik, bentuk badannya sensual serta kulitnya putih bersih. 

Saya dengar selentingan berita dari rekan-rekan di sini, jika Ibu mega sebetulnya simpanan salah satunya dokter Kebidanan serta Kandungan yang kerja di Rumah Sakit yang sama. Menjadi Kepala Bangsal Bedah, Ibu mega begitu disegani, sebab tidak hanya dengan fisik semakin besar dari rata-rata perawat bangsal Bedah, pun mulutnya begitu pedas, terpenting untuk perawat-perawat yang lainnya. Yang lebih menarik juga, gelang serta cincin berlian di tangan, pun arlojinya yang bertuliskan “Cartier”. Pantaslah jika isu itu benar, Ibu mega simpanan salah satunya dokter kaya yang kerja di Rumah Sakit ini. Menjadi perawat, kami terkadang bergiliran bekerja jagalah 24 Jam, kesukaannya di bangsal saya yang bergiliran jagalah ialah perawat senior serta junior, tidak kecuali saya serta Ibu mega. 

Dalam satu hari, saya mendapatkan agenda pekerjaan jagalah bersama dengan Ibu mega. Sebetulnya saya begitu takut, sebab tidak hanya saya masih tetap baru, saya pun “ngeri” kepadanya. Ada yang membuat saya terperanjat, saat semua perawat rekan-rekan saya tuntas bekerja jam 14.00, tinggal kami berdua menjadi perawat jagalah hari itu. 
“Dik Wati”, Ibu Winanti menyebut sekalian tersenyum. 
“Iya, bu”, kaget saya. 
Sebelumnya, terpenting saat bekerja pagi hari, belum pernah sekalinya Ibu mega menyebut saya serta rekan-rekan yang lainnya dengan panggilan “Dik”, ditambah lagi memanggilnya sekalian tersenyum. Mimpi apakah saya ini? 
“Ini, statusnya diperlengkapi serta check lagi Suhu serta Tekanan untuk kamar 9 serta 10”. 
“Iya, Bu”, saya seperti kerbau dicocok hidung. 

Selekasnya saya kerjakan perintahnya. Sesudah tuntas, menyusul perintah-perintah “manis” yang lainnya, saya cuma dapat menuruti. Meskipun saya iri pun kepadanya, sebab Ibu mega cuma duduk manis di meja counter depan Bangsal Bedah sekalian melihat TV.Pada akhirnya tuntas pun perintah-perintah “Sang Ratu”, jam telah tunjukkan jam 17.00, waktunya agenda kunjung pasien. Pada sekarang ini umumnya perawat jagalah waktunya untuk beristirahat serta mandi sampai selesainya agenda kunjung pasien. Saya kecapekan, tetapi berikut resikonya menjadi perawat yunior. Saya masuk ke kamar jagalah perawat, serta merebahkan diri untuk tidur-tiduran sebantar sekalian beristirahat. 

Sesaat kemudian Ibu mega masuk ke kamar pun, ia pun ikut-ikutan rebahan dalam tempat tidur yang lainnya. Awalilah ia menginterogasiku. 
“Sudah miliki pacar, dik?”. 
“Dulu, Bu”. 
“Dulu waktu sekolah di Akper pun tinggal di asrama Akper?”. 
“Iya”. 
Ibu mega ketawa, “Kenapa Bu, kok ketawa?”. 
“Hayo, dahulu waktu di asrama seringkali tonton BF bersama, tho?”. 
“Iya, kok ibu tahu?”. 
“Saya dahulu waktu masih tetap sekolah pun sama juga dengan Dik Wati”. 

Sesudah itu malah Ibu mega narasi tentang BF dengan detil serta cerita-cerita tentang main kucing-kucingan masukkan cowok ke asrama serta beberapa hal porno yang lain, sekalian tertawa-tawa. Meskipun geli di telinga mendengarnya, saya menanggapinya dengan malu-malu oleh karena itu yang kami seringkali kerjakan di asrama. Meskipun saya jadi tidak jenak, namun juga senang dengarkan cerita-cerita itu sekalian mengingat saat-saat sekolah. 
“Dik Wati, sempat “main” dengan pacarnya?”. 
“Belum, Bu”. 
“Oh, kelak saya ajarin”. 
“Baik, Bu”, jawab saya sembarangan, saya fikir itu kan cuma cerita-cerita omong kosong, meskipun saya pun tidak miliki kemauan serius mendapatkan pelajaran dari Ibu mega. 
“Saya mandi dahulu, Bu”. 
“Ya, kelak saya menyusul”. 

Saya ambil handuk serta masuk ke kamar mandi. Wah, asik pun, jika Bu mega ingin mandi bersama dengan saya. Sebab dahulu waktu di asrama, saya seringkali juga mandi berdua dengan rekan-rekan, seperti juga dengan rekan-rekan yang lainnya. Terkadang kami seringkali takjub dengan tubuh serta payudara rekan yang lainnya, meskipun seringkali mandi bersama dengan belum pernah berlangsung seperti yang berada di BF, apakah itu namanya? Lesbian?

Di tengah saya mandi, terdengar ketukan di pintu. 
“Siapa, yaa?”. 
“Saya, dik”, nada Ibu mega menyahut. 
Saya bukakan pintu kamar mandi, tentunya saya dalam kondisi telanjang. Ibu mega langsung masuk ke kamar mandi, serta melepas pakaiannya satu-satu. Saya berhenti mandi serta cuma memandanginya, saya berdebar-debar ingin lihat “peralatan” Ibu mega.Nyatanya benar serta nyatalah Ibu mega saat ini telah telanjang juga bersama dengan saya di kamar mandi. Kulitnya putih mulus, payudaranya cukup besar, mungkin cup B, perutnya rata serta rambut kemaluannya lebat. Di banding kulit saya yang lebih coklat serta rambut kemaluan saya yang cuma sedikit, saya iri juga. 
“Kenapa dik?”, Ibu mega membangunkan lamunan sekejap saya, sekalian tersenyum. 
“Ndak, Bu, tidak apa-apa”. 
“Oh, rambut yang bawah cuma dikit yaa”, sekalian tangannya menjulur mengelus liang surgaku. 

Saya terkesiap, ada perasaan aneh pada vagina saya saat tangannya mengelus lembut vagina saya. (saya ingat dahulu saat di asrama, terkadang jika mandi bersama dengan rekan yang lainnya, seringkali guyonan mengelus vagina rekan lainnya semacam itu, tetapi tidak ada perasaan apa-apa). Dengan refleks juga saya menarik napas panjang serta tutup mata. 
“Kenapa dik, nikmat?”. 
Saya buka mata serta tersipu malu. 
“Oh.., tidak pernah yaa”, Ibu mega tersenyum, sekalian matanya menyempit memerhatikan saya. Saya pun cuma tersenyum sekalian menggigit bibir. Saya ingin Ibu mega mengelus vagina saya kembali seperti barusan, kata saya dalam hati. 

Saya terasa itu berlangsung demikian cepat, tidak diduga Ibu mega berjongkok di depan saya serta mulai menjilati vagina saya. Saya kaget serta keenakan. Sekalian berdiri, saya sandarkan punggung saya ke tembok kamar mandi. Saya tidak dapat serta tidak ingin menolaknya, saya ingin menikmatinya. Ibu mega begitu pakar menjilati vagina saya, dengan lembut ia buka lebar paha saya serta buka pelan-pelan bibir kemaluan luar saya. Saya rasakan begitu nikmat dibawah sana, di kemaluan saya, saat lidah Ibu mega menjilat-jilat kemaluan sisi dalam saya, benar-benar nikmat serta sangat nikmat, terpenting saat bibirnya yang basah menjilati klitoris saya. Saya tutup mata menikmatinya, payudara saya ikut juga mengeras, ke-2 tangan saya meremas pundak Ibu mega yang berjongkok di muka saya. Saya tutup rapat-rapat bibir saya, sekalian menggigit kencang bibir saya, sangat nikmat, sangat nikmat. Cuma napas saya lama-lama semakin berat, serta lama-lama saya semakin terasa kemaluan saya semakin basah. 

“Ooohh..”, saya mendesah cukup keras, saya terasa melayang-layang serta lupa semua dalam sekejap. Kemaluan saya sisi dalam berasa berdenyut-denyut berkelanjutan, badan saya terasanya melayang-layang dengan semua perasaan yang sempat saya alami. Untuk kali pertamanya saya terasa mulai tahu kemaluan saya sendiri serta kenikmatannya yang mengagumkan. itu namanya orgasme, yaa. 

“Sudah, dik?”, nada Ibu mega menyadarkanku. 
“Maaf, Bu”, sekalian saya memeluk badan telanjang Ibu mega yang telah kembali berdiri di depan saya. Saya terasa ingin dibelai serta dicintai, di samping badan saya yang mendadak lemas, sesudah rasakan puncak kesenangan barusan. 
“Tidak apa-apa”, Ibu mega masih tetap tersenyum. 
“Wajar saja, tak perlu khawatir”, Dia meneruskan. Sekalian dipeluknya badan saya yang telanjang. Ia capai kepala saya, serta diciumnya bibir saya dengan lembut, lidahnya masuk juga ke mulutku, menjilati lidah saya. Untuk kali pertamanya juga saya rasakan ciuman dari seseorang wanita, ditambah lagi wanita masak serta memiliki pengalaman seperti Ibu mega. Nyatanya lebih nikmat serta halus, di banding saat kali pertamanya saya rasakan ciuman dari seseorang cowok. 
“Ayo dik, segera mandinya”. 
“Nanti malam giliran saya ya”, Ibu mega tersenyum penuh makna pada saya. Saya mengangguk perlahan, serta ingin “waktu” itu selekasnya hadir. 
Malam itu, sesudah tugas-tugas menjadi perawat sudah tuntas, di kamar tidur perawat saya belajar “melayani” Ibu mega, nyatanya indah sekali. Benar-benar hari itu, sore serta malam yang tidak terlewatkan. 

Mulai sejak itu juga, Ibu mega jadi tutor saya. Saya tetap menanti saat-saat pekerjaan bersama dengan, kembali dengan Ibu mega serta kencan-kencan kami yang lain di luar jam dinas Rumah Sakit, share waktu dengan “suami” tidak sah Ibu mega, dokter Cornelis, seseorang dokter Kebidanan serta Kandungan.

Cerita Dewasa Ayam Kampus Haus Seks

Cerita Dewasa Ayam Kampus Haus Seks Hallo para pascol semua, salam untuk kalian semua semoga semuanya di berikan berkah dan sehat selal...