
Setelah sepuluh tahun berlalu aku ditinggalkan ibuku yang meninggal dunia, mulanya aku tidak terbiasa tanpa adanya kehadiran seorang ibu di dalam kehidupanku. Namun semakin bergulirnya waktu, aku mulai membiasakan diri hingga kurang lebih sepuluh tahunan waktu berlalu dan aku menjalani kehidupan sehari-hari dengan enjoy, berbeda dengan ayahku yang selalu merasa kesepian. Ayahku selalu saja meminta izin kepadaku untuk menikah lagi, dengan rasa kasihan terhadap ayahku yang merasa kesepian, aku pun mengizinkan permintaannya itu.
Ayahku sendiri sedang dekat dengan seorang wanita yang bernama tante Mona. Aku sering kali mempergoki ayah dan tante Mona tengah asik berpelukan ketika menonton tv. Terkadang dengan nakalnya tangan ayahku mengelus-elus buah dadanya tante Mona dengan gairah yang menggebu-gebu. Tante Mona memiliki wajah yang cantik, body semok dan juga buah dadanya yang begitu terlihat mengkel berisi. Sejak kehadiran tante Mona di rumah, aku jadi sering ngocok hanya dengan membayangkan tubuh tante Mona yang seksi apalagi payudaranya yang terlihat montok hingga rasanya ingin aku remas-remas.
Sejak mendapatkan izin dariku untuk menikah lagi, ayahku terus membantu tante Mona ke rumah. Umur tante Mona 35 tahun lebih muda dari ayahku 7 tahun. Meskipun sudah berumur 35 tahun, tante Mona memiliki wajah yang cantik dan juga tubuh yang semok. Tante Mona sendiri bekerja sebagai staff di salah satu perusahaan ternama.
Ketika hari libur tepatnya hari Minggu, tiba-tiba saja aku dibuat kaget dengan bunyi pecahan gelas di dapur. Aku segera menghampiri suara tersebut dan disana ada tante Mona yang tengah membersihkan pecahan kaca tersebut.
"Awas jangan mendekat dulu, ada banyak serpihan kaca yang belum dibersihkan, tadi aku tidak sengaja menjatuhkan gelas dan akhirnya pecah" ujar tanpa Mona sambil jongkok membersihkan serpihan kaca yang bertaburan.
Saat itu aku masih dalam keadaan mengantuk lantaran terbangun dari tidur karena terkejut mendengar suara itu, namun aku mendapatkan pemandangan yang bagus ketika melihat pantat tante Mona yang bahenol saat jongkok membersihkan serpihan kaca itu membuat mataku menjadi melek.
"Nak, bisa tolong tante untuk mengambilkan sapu" ujarnya menyuruhku.
"Ok tante, aku akan segera ambilkan" balasku yang kemudian mencari sapu.
Sambil mencari-cari sapu yang dibutukan tante Mona, aku sekalian membayangkan pantat montok tante Mona yang membuat kontolku menjadi tegang yang berada didalam celana kolor yang kupakai. Sehabis menemukan sapunya, aku segera bergegas kembali ke dapur dan mengelus-elus kontolku dengan tangan dari luar celana.
"Tan, ini sapunya.. ohh iya papa dimana ya tan?" tanyaku.
"Ayah kamu sudah berangkat bekerja sejak dari subuh. Katanya dia mendapatkan tugas secara mendadak dan harus segera ke kantor pusat yang berada di Jakarta. Tante diperintahkan untuk menemani kamu sekaligus membuatkan makanan untuk kamu, oh iya kamu mau makan apa? biar tante masakan" ujarnya yang masih membersihkan serpihan kaca.
"Aku mau makan nasi goreng saja tan" sahutku yang kemudian menuju ke kamar mandi.
Nafsuku semakin meningkat saat memperhatikan pantatnya tante Mona yang masih membersihkan pecahan gelas itu ketika sedang menyapunya. Pantat dan payudaranya yang montok bergoyang mengikuti pergerakan tubuhnya. Di kamar mandi aku langsung mengocok sambil membayangkan yang barusan aku lihat. Setelah mencapai puncak, kemudian aku mandi.
Setelah selesai mandi, aku hanya mengenakan handuk yang terlilit seperti rok perempuan dan menuju ke dapur untuk menanyakan nasi goreng untukku sudah siap atau belum. Namun, setelah ke dapur aku justru melihat pemandangan indah lainnya. Aku melihat lekukan pantat tante Mona yang menggairahkan saat memasak.
Ntah bagaimana aku bisa memberanikan diri untuk memeluk tante Mona dari belakang yang sedang memasak. Kemudian aku ciumi lehernya dan tante Mona mencoba untuk berontak namun aku semakin menjadi-jadi.
"Aduuhh kakak ngapain sih.. jangan begini dong.. tante ini kan calon ibu tiri kamu" keluhnya.
"Hhhmm.. udah tante diam saja, tante gak cocok tahu jadi ibu tiriku.. tante cocoknya jadi pelacur ayahku" ujarku dengan geram.
"Loh kamu ngomong apa sih kak, tante mohon hentikan" ujarnya yang semakin lama semakin pelan dan nampaknya tante Mona sudah mulai terangsang lantaran terus aku kecupi lehernya.
"Sudah tante diam dan nurut saja, aku lagi sange berat nih tante. Sekarang kan di rumah hanya kita berdua saja, aku tahu kok semalam tanpa abis ngentot dengan ayahku, aku hanya mendengar suara erangan ayahku tapi tidak ada erangan dari tante, tante tidak puaskan bercinta dengan ayah" bisikku dengan pelan sambil terus mengelus dan meremas pantatnya yang bahenol.
"Sudah kak lepasin tante" rengeknya dan menolak tanganku yang sedang mengelus pantatnya.
Aku sudah tidak memperdulikan perkataannya dan terus mencumbuhi tante Mona. Aku sebenarnya tahu kalau saja tante Mona begitu liar dalam berhubungan seks, namun sekarang dia belum terpancing nafsunya. Tante Mona membutuhkan waktu untuk membuatnya terangsang dan semakin menjadi gairah seksnya.
Mulut dan lidahku dengan buas mengecup dan menjilati lehernya ditambah tanganku yang mulai bermain di payudara tante Mona. Aku remas-remas payudara yang sudah lama membuat aku penasaran dan ntah setan mana yang membuatku menginginkan lebih dari sekedar meremas dan menciumi saja. Dengan cepat aku membuka paksa daster yang dikenakan tante Mona dari belakang dengan merobeknya.
Terlihat jelas punggung tante Mona yang begitu putih mulus dan pantatnya yang tidak mengenakan celana dalam membuat kontolku semakin tegang dengan keras. Tidak mau berlama-lama lagi untuk bisa menikmati dengan segera tubuh tante Mona, aku menyuruhnya untuk menungging secara paksa meskipun dia bersikeras terus memberontak. Namun aku sudah tidak memperdulikan itu, justru aku semakin bernafsu dan langsung memasukkan kontolku dari belakang.
"Tolong hentikan kak, aku ini adalah calon ibumu" jeritnya terisak tangis.
"Aduhh tante dari tadi berisik, tante cukup diam saja, tante kan belum jadi ibuku" ujarku sambil memasukkan kontolku ke dalam liang kemaluan tante Mona dari belakang.
Aku pikir kemaluan tante Mona belum becek, sepertinya memang dia belum merasakan rangsangan yang telah aku lakukan. Kemudian kutarik lagi kontolku dan kemudian duduk berjongkok untuk menjilati kemaluan tante Mona dari belakang saat dia menungging.
"Aarrgghh.. aaahhh.. sekarang apa yang kamu lakukan kak" tanyanya sambil mendesah seperti biasanya wanita merasakan kenikmatan.
Aku terus menjilati memeknya tante Mona layaknya seperti anjing yang sedang kehausan. Aku rasakan aroma khas kemaluannya dan aku merasakan tante Mona sudah mulai merasakan rangsangan yang aku berikan. Tante Mona sudah tidak berontak lagi, justru dia merasakan kenikmatan saat aku jilati vaginanya hingga dia berpegangan pada meja kompor di dapur.
Tante Mona semakin terangsang hingga dia sendiri yang menunggingkan dan menggoyang-goyangkan pantatnya kearahku. Betapa senangnya aku saat tante Mona sudah mulai menikmati permainan yang aku berikan dan aku pun begitu menikmati saat menjilati memeknya tante Mona dan memegang dan juga meremas bongkahan pantatnya yang begitu montok.
"Sudah kak aku menyerah, jika memang kamu ingin menikmati tubuhku dan memuaskanku, aku izinkan namun tolong jaga rahasia ini ya, Kejadian ini jangan sampai ayahmu tahu, kamu kan tahu sendiri kalo tante benar-benar sayang sama ayahmu dan tante tidak menginginkan pernikahan tante dan ayahmu gagal, tante harap kamu melakukan hal seperti ini hanya sekali dan tante ingin setia kepada ayahmu" pintanya yang sudah pasrah.
Setelah itu tante Mona merubah posisinya yang menghadap kearahku dan aku berdiri tepat di hadapannya yang menatap tajam matanya. Tiba-tiba saja aku disosor dengan buasnya dengan bibir yang seolah tidak ada hari esok. Sontak aku langsung membalas sosorannya sambil meremas-remas payudaranya. Setelah tante Mona sudah benar-benar terangsang, aku mengangkat tubuhnya ke atas meja makan dan langsung kumasukkan kontolku yang sudah mengeras sejak awal ke lubang memeknya.
"Aaarrrggghhh.. aaahhh.. nikmat sekali kak, kontol kamu besar ya tidak seperti punya ayahmu" desahnya merasakan kenikmatan.
Aku terus menggenjotkan kontolku ke depan belakang dengan cepat hingga kurang lebih 15 menit dan akhirnya tante Mona mencapai puncaknya, namun aku belum mencapai orgasme.
"Hhhmmm.. aku belum mencapai puncak nih tan" keluhku.
Tante Mona seperti orang yang merasa kelaparan, dengan gesitnya dia segera melumat kontolku. Dia benar-benar sudah berpengalaman soal menghisap dan mengemut penis, aku begitu merasakan kenikmatan yang amat luar biasa saat dia mengemut dan menjilati kontolku. Setelah kurang lebih 5 menit dia mengulum kontolku dan akhirnya aku mencapai puncaknya.
"Ooouuuhhh.. aaahhhh.. akhirnya tan aku mau mencapai puncak.. aaaarrrrgggghhh" eranganku yang mencapai puncak dan aku keluarkan spermaku ke dalam kerongkongan mulutnya tante Mona.
Setelah aku kejadian itu, pada akhirnya tante MOna dan ayahku jadi menikah. Aku mendapat jatah berhubungan badan dengan tante Mona sebulan sekali rutin, tante Mona sadar bahwa kontolku lebih bisa memuaskan daripada kontol ayahku. Namun dia tetap mencintai ayahku.