Minggu, 03 Februari 2019

Cerita Dewasa Ayam Kampus Haus Seks

Cerita Dewasa Ayam Kampus Haus Seks

Hallo para pascol semua, salam untuk kalian semua semoga semuanya di berikan berkah dan sehat selalu ya. Kali ini ada kiriman cerita dari seorang perempuan yang identitasnya saya samarkan ya guyss.. Ceritanya ini telah saya baca dan sangat mengairahkan apalagi untuk kalian para pascol, pasti langsung crott baca cerita ini dan ditambah membayangkan keadaan ini ya pascol.

Cerita ini menceritakan wanita itu tersebut sendiri yang dimana dirinya memiliki suatu kejanggalan dalam suatu hubungan. Suatu kejanggalan itu ialah dirinya yang snagat hyper seks sekali, tingkahnya itu membuat para lelaki yang suka padanya pada takut akan akhirnya karena mereka tidak dapat menandingi dirinya ketika bermain di ranjang. Kita mulai saja ceritanya ya guyss ..

Ayam Kampus Haus Seks


Narasi ini berlangsung beberapa waktu lalu, Semua berawal saat penerimaan mahasiswa baru di kampusku, O iya, saya ialah salah satunya mahasiswa di salah satunya perguruan tinggi terkenal di kotaku. Waktu itu, maklumlah namanya pun senior, jadi semua mahasiswa baru baik itu mahasiswa baru cowok ataupun cewek tunduk atas semua perintahku.

Di hari ke-2 tujuan pengenalan universitas, saya berteman dengan seseorang mahasiswa baru yang bernama Reny serta berasal di luar pulau. Anaknya imut-imut, manis serta lucu, membuatku begitu tertarik padanya. Beberapa langkah juga kucoba untuk lakukan pendekatan, hingga sukses membuatnya pacar.

Singkat kata, sesudah dua bulan pacaran saya ajak ia berjalan-jalan ke rumahku yang kebetulan kembali kosong. Setelah tiba di dalam rumah, kami menceritakan sesaat, dari mulai beberapa hal yang bau universitas sampai menyentuh permasalahan sex. Nyatanya dia melayaniku dengan semangat, sampai pikiranku juga melayang-layang ke beberapa hal yang tidak-tidak. Saya berupaya memancingnya selalu dengan meningkatkan bumbu-bumbu narasi, serta ia juga terangsang. Perlahan kudekatkan tubuhku kepadanya dengan berhati-hati, takut siapa tahu ia menampik. Di luar pendapat, ia tidak menghindar, jadi kucoba lebih jauh kembali lewat cara menciumnya. Nyatanya ia membalas kecupanku dengan penuh nafsu. Saya jadi lebih berani kembali.

Saya berupaya untuk buka pakaian serta celana panjang yang dia gunakan. Ohh begitu indahnya bentuk tubuhnya saat kulihat cuma memakai penutup buah dada serta celana dalam putihnya. Saya juga tidak tahan kembali, sekalian mengulum bibirnya yang basah, saya juga buka semua pakaianku. Ia terperanjat serta kagum saat lihat batang kemaluanku yang besar sudah tegang.
Ia buka penutup dada serta celana dalamnya serta menggenggam batang kemaluanku sekalian berkata, “Kak, besar sekali punyamu, saya kok ingin mencobanya..!”
Sekalian meredam nafsu, saya membaringkan Reny ke lantai.

Awalannya kami cuma bergulat dengan sama-sama berpelukan saja, tapi kemauan untuk lakukan yang lebih dari itu juga tidak bisa kami bendung kembali. Sampai pikiran sehat serta perasaan ingin memeperlakukan Reny semestinya wanita yang baik juga pupus waktu itu. Kami waktu itu telah dilingkupi oleh kemauan birahi yang tinggi sekali.
“Ren.., saya ingin mencium milikmu, bisa kan..?” tanyaku merayunya.
“Oh.., Kak.. Kerjakan saja, saya tidak tahan kembali..!” jawabnya sekalian tangannya coba menggenggam batang kemaluanku yang telah berdiri tegak itu.

Kami sama-sama lakukan oral sex dengan tempat 69. Pekerjaan kami yang satu itu berjalan sampai 10 menit, serta kami juga berhenti bertepatan sebab rupanya saling inginkan perihal yang lebih kembali.

Sesudah itu saya mulai masukkan batang kemaluanku ke liang keperawanannya dengan perlahan. Ia meringis meredam sakit yang teramat begitu, tetapi tidak berupaya untuk menolakku. Saya juga makin bertambah semangat untuk mengocok liang keperawanannya secara cepat sekalian menggoyangkan pinggulku.

Sesudah 15 menit kami bermain cinta, saya mengajaknya terbang ke alam nikmat.
Saya mendengarnya mendesis, “Ssshh.. ahh.. Kak.., sangat nikmat.., teruuss.. Kaak.. kelihatannya ada yang ingin keluaarr..”
Saya berfikir jika ia telah sampai orgasme yang pertama, selalu saja saya mengocoknya serta tidak diduga, “Kakk.. saya keluar..!” serta memuncratlah cairan kental berwarna putih kemerah-merahan, sinyal jika keperawanannya sudah kutembus.

Sampai 4x ia alami orgasme. Ia kulihat alami lemas lunglai, sedang saya sendiri belumlah. Makin lama daya tahanku mulai menyusut juga. Sekalian meredam rintihan kenikamatan, saya terasa spermaku telah waktunya dikeluarkan. Saya juga keluarkan batang kemaluanku dari dalam liang kewanitaannya sekalian mengeluh.
“Aaahh.. Reny.. kamu benar-benar hebat sayang..!” serta cairan putih kental dari dalam batang kemaluanku tertumpah di mukanya.
Ia lalu menjilati batang kemaluanku yang besar itu sekalian tersenyum senang.

Sesudah bersih dari cairan sperma serta cairan kewanitaannya, saya juga mengecup bibirnya dengan hangat. Kami kembali lakukan percintaan sekalian berpelukan dibawah lantai. Tidak berasa kami juga tertidur nyenyak.

Sesudah terjaga, saya lihat Reny masih tetap tertidur nyenyak di lantai. Saya duduk sesaat di sofa. Tidak diduga saya ingat pengalaman waktu lantas waktu saya berusia 15 tahun. Saya memiliki seseorang tante yang bernama persis dengan nama pacarku ini. Ya, nama tanteku pun Reny. Saat itu saya serta tante tinggal serumah, sebab bapak serta ibuku kembali keluar kota untuk mengatur pernikahanpamanku.

Sebab takut tidur sendiri, jadi tanteku meminta tolong supaya saya menemaninya di kamarnya, kebetulan di kamar tanteku ada dua buah tempat tidur yang letaknya bersampingan. Malam itu entahlah sebab kecapekan, saya serta tanteku lupa menempatkan anti nyamuk elektrik, serta dapat ditebak semua badanku diserang nyamuk yang memang tidak paham diri.

Larut malam saya terjaga sebab tidak tahan akan serangan nyamuk yang tidak paham diri itu. Saya kembali mengarah tanteku serta lihat ia tertidur nyenyak sekali. Sebab kamar itu cuma diterangi lampu pijar 10 watt, jadi samar-samar saya bisa lihat badan molek tanteku yang terbaring merangsang. O ya, meskipun telah berusia 26 tahun, tanteku memiliki muka yang masih tetap begitu muda serta cantik. Entahlah sebab nafsu, saya membulatkan tekad mendekati tanteku. Kulihat daster yang dipakainya tersibak dibagian selangkangannya.

Saya coba melihat serta lihat gundukan kecil dari balik celana dalamnya. Ah, begitu saya ingin lihat yang berada di balik celana dalam itu.
Tidak diduga tanteku terjaga, “Hei.., apakah yang kamu kerjakan. .?”
Sebab terperanjat, saya juga menjawab sembarangan, “Tadi saya lihat tikus tante..”
Tante Reny menjerit sekalian memelukku, “Ahh.., di mana tikusnya..?”
Sekalian terbata-bata sebab grogi, saya menjawab jika tikusnya telah lari. Saya juga kembali pada tempat tidur serta pada akhirnya tertidur nyenyak sampai pagi hari.

Esok harinya, waktu sarapan saya lihat tanteku tersenyum-senyum sendiri, tetapi saya takut untukmenanyakannya. Saya terasa, jika tanteku itu kelihatannya tahu kelakuanku semalam, tetapi sebab memang saya masih tetap terasa tidak enak dengan tanteku, jadi saya juga diam saja.

Malam harinya saya menyengaja tidak tidur supaya bisa ambil peluang seperti malam awal mulanya. Serta waktu itu juga datang. Pas larut malam, waktu kulihat tanteku tertidur nyenyak, saya mengendap ke tempat tidurnya serta coba melihat. Astaga, yang kulihat bukan kembali celana dalam putih yang biasa dipakainya, tetapi gundukan kecil yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Sekalian memikirkan yang tidak-tidak, saya tidak mengerti jika celanaku telah turun turun. Ya, tanteku nyatanya tidak tidur.
“Masih belumlah tidur, De..?” tanyanya.
Saya juga sadar sebab tenyata tante Reny menggenggam batang kemaluanku serta berkata, “Wah.., telah besar yaa..?”
“Ihh.., geli tante..!” jawabku coba hindari pegangan tangannya di kemaluanku.

Bukan sekedar itu saja, sebab lalu tanteku bagun dari tempat tidurnya serta langsung mengulum kemaluanku yang telah jelas berdiri dengan tegaknya. Ia mengulum, sampai saya meringis meredam perasaan nikmat serta dikit kesakitan, sebab memang tanteku sangat bernafsu mengulum kemaluaku, sampai sudah sempat giginya menyentuh batang rudalku. Tante Reny lalu buka semua bajunya serta menyuruhku untuk naik ke atas. Ia membimbingku untuk menindihnya.

“De.., mari naik..! Tante tahu kok kamu pun ingin kan..?” tuturnya manis coba membujukku.
Saya juga naik serta tanteku menuntun batang kemaluanku yang waktu itu belum juga sangat besar masuk ke liang kewanitaannya sekalian mengeluh.
“Ayo.. De.., kamu tentu dapat. Janganlah diam demikian dong..! Gerakkan maju mundur. Ayoo, yahh.. demikian.., ahh enak De..!” tuturnya kesetanan.
Betul-betul saya coba mengerahkan semua kemampuan serta ketrampilan yang kudapat dari seringkali melihat film porno untuk menerapkannya pada tindakan kami itu.

“Terus De.., selalu.., tante terasa enak..!” tuturnya memberikan pujian pada goyangan tubuhku serta rudalku yang coba memuaskan gairah kesenangan tanteku.
Saya juga terasa keenakan serta pada akhirnya, “Crutt.. crutt.. crutt..!” air maniku juga keluar.
“Wah.., belumlah apa-apa telah keluar. Tetapi tidak apa-apa.., lumrah kok buat pemula..”
“O ya.. tante.., wajarnya berapakah lama baru air mani keluar..?” tanyaku tiada malu-malu kembali.
“Satu jam..” tuturnya sekalian tersenyum simpul.

Kami selalu saja lakukan hal tersebut dalam beberapa jenis style. Saya tentunya menikmatinya, karenanya adalah pengalaman sex pertamaku.

Sesudah malam itu, kami seringkali lakukan hubungan seksual sampai daya tahanku benar-benar teruji. Kami lakukan salah satunya di kamar mandi, sofa serta tentunya kamar tanteku. Memang masa-masa bersama dengan tanteku dahulu, adalah masa lalu yang indah untuk kehidupan seksku.

Saya selalu saja melamun sampai kudengar nada Reny menegurku, ” Kak.., antar saya pulang..!” tuturnya sekalian merangkul diriku.
“Eh, Reny.., kamu telah bangun..?” tanyaku terbata-bata sebab kaget.
“Kak.., lain waktu kita membuat kembali yaa..?” pintanya manja.
“Iyalah.., kelak. Enakkan..?” tanyaku kembali.
“Iya.. Kakak hebat mainnya, Reny sampai ketagihan..!” tuturnya sekalian merangkul tubuhku dengan erat dan mencium pipi kananku.
“Iya dong.., siapa dahulu..!” balasku pun sekalian mencium keningnya.
Cuma sesaat sesudah percumbuan kami yang indah itu, kami kenakan pakaian kembali serta bersihkan ruang itu yang sudah sempat cukup amburadul. Lalu saya juga mengantarkan Reny pulang serta tersenyum senang.

Kamis, 31 Januari 2019

Cerita Dewasa Membantu Menyirami Rumput Tetangga yang Gersang


Hello guyss, kali ini ada cerita yang tidak kalah menariknya dengan cerita sebelumnya dimana narasumber kita adalah seorang lelaki yang menceritakan dirinya membantu istri orang di ranjang. Jangan terlalu dibayangin ya gan nnti jadi crott cepat lho .. hahaha .. setelah saya baca ini adalah pengalaman yang sangat menarik bagi dirinya yang sangat beruntung bisa mendapatkan rejeki nomplok seperti itu. untuk para pembaca bermimpi aja ya bisa mendapatkan hal yang sama biar jadi kenyataan. hahaa

Mari kita lanjut saja keceritanya ya guyss, pasti ada yang sudah gak tahan pengen coli siap baca dan membayangan cerita ini. Saya tinggal di dekat pasar tradisionil, Rumahku pas di belakang los-los yang berada di pasar itu, Salah satunya los yang pas di muka rumahku ialah los penjual telur ayam. Bik Tari, demikianlah biasa kami menyebut penjual telur itu. Ia dari Madura, serta dibantu oleh anaknya, tumi.

Tumi berusia 25 tahunan, telah bersuami serta miliki seseorang anak berusia 3 tahun. Bodi montoknya begitu menarik. Dengan tinggi seputar 165cm serta ukuran toket 36 C (taunya terakhir sesudah terungkap :P) membuat prima penampilannya yang didukung dengan muka yang cukup manis. Jujur saja, saya begitu seringkali memikirkan badan moleknya ada pada dekapanku. Setiap saat pergi kerja, saya tetap meluangkan diri melihat tumi yang tetap kenakan kaos ketat waktu mengawasi kiosnya, serta itu membuat selangkanganku sering berontak, jika tidak secepatnya berlalu dari hadapannya…

Tempo hari pagi saya bolos ke kantor. Sesaat istriku telah pergi kerja, saya gunakan waktu pagiku dengan membersihkan Ninja merahku sesudah beberapa waktu malas kubersihkan sebab hujan turun terus-terusan. Sekalian memandikan Ninja, kadang-kadang saya curi2 pandang mengarah tumi, terutamanya mengarah toket jumbonya… Seringkali sudah sempat ketahuan jika saya tengah curi2 pandang, serta saya cuma melempar senyum untuk menutupi kemaluan.. eh perasaan maluku.

Tidak berapakah lama lalu saya lihat tumi bergerak ke arah ponten umum. Tetapi tidak lama lalu, ia kembali serta tampak resah serta mukanya pucat seperti meredam suatu. Serta ia pada akhirnya celingak-celinguk di pinggir jalan belakang kiosnya, yg automatis ada di muka rumahku. Sebab ingin tahu, saya bertanya ke tumi

“Kenapa, Sum?” tanyaku
“Anu, mas. Kebelet, tetapi ponten penuh,” jawabnya tiada malu-malu, sebab kami pun sudah kenal lama.
“Trus kamu ingin ke manakah? Ingin kencing di tepi jalan ya?” godaku.
“Ih mas ini, ya tidak lah. Saya ingin pulang, nunggu becak,” jawabnya.
“wheleeh… kamu pakai kamar mandiku saja lho, dibanding keluar di becak,” kataku tawarkan layanan.. sekalian mikir taktik buat ngintip..
“Gak apa2 ya mas?” tanyanya. “udah, dibanding keburu keluar… cepet masuk,” kataku. Serta ia juga selekasnya masuk ke rumahku, serta saya perlihatkan kamar mandiku. Sesudah mengantarnya, saya keluar untuk pastikan keadaan di luar sedang tidak ramai. Sesudah meyakini dengan perkiraanku bhw waktu tumi masuk tidak ada orang yang lihat, jadi saya masuk ke rumah dalam rencana melihat. Pintu pagar juga saya tutup.

Nyaris saya kecewa… sebab waktu mendekati kamar mandi, saya dengar tumi telah menyiramkan air, sinyal tuntasnya hajat yg tertahannya. Kentang nih, pikirku…. Tetapi tidak diduga terdengar, “gedebuuuk… klothaaak… aaaauuuuuuwwwww…” Rupanya tumi terpeleset serta jatuh di kamar mandi. Spontan saya ketuk pintu kamar mandi, serta menanyakan “Kenapa, Sum?” Ia menjawab, “aduh mass… saya kepeleset.. sakit sekali dengkulku.” Selang beberapa saat, ia buka pintu, sekalian terpincang-pincang memegangi lututnya yg tampak merah memar. Ia terhuyung-huyung. Saya kasihan memandangnya, serta membantu memapahnya. Ia tidak menolaknya. Saya peluk pinggulnya dengan tangan kananku serta membimbingnya ke ruangan tengahku. Sebab ia terpincang-pincang, tiada menyengaja pergerakan tubuhnya turun naik, serta waktu itu juga tanganku berasa menyentuh toket jumbonya, walau masih tetap di luar kaosnya. Tiada diakui, waktu kupapah, beberapa kaosnya terungkap, serta memperlihatkan begitu putih serta mulus kulit tumi.

Sampai di ruangan tengah, tumi meminta duduk di karpet sekalian bertumpu di sofa untuk meluruskan kakinya yg memar. Nah, waktu ingin duduk berikut saya gunakan peluang untuk meremas toketnya saat saya membantunya duduk dengan memapahnya dari belakang. Seakan tidak kusengaja, waktu ia melorotkan tubuhnya, serta tanganku mulai sampai di lokasi toketnya, kusempatkan utk dikit meremasnya. Serta tumi juga melenguh… “uuhh…” saya tidak tahu itu lenguhan sebab remasanku atau sebab sakit di lututnya. Sebodo sangat ah… yg terpenting saya dapat rasakan begitu kenyal serta kencangnya toket jumbo tumi.

Saya mengambil air minum untuk tumi sekalian tawarkan menggosoknya dengan minyak gosok yang saya miliki. Serta tumi terima tawaranku. Saya ambilkan minyak gosok serta sekaligus juga tawarkan diri utk menggosokannya serta mengurut kakinya. Ia ingin saja. Serta awalilah ritual pijit memijit, walaupun sebetulnya hanya mengelus serta mengusap… hehehehe… Sebab cemas Bik Sari berprasangka buruk dengan kepergian tumi, saya menanyakan, “kamu barusan pamit ke manakah sama bik Sari?” tumi menjawab, “aku pamit pulang.” “o, ya telah. Takutnya nanti dicari,” jawabku.

Dari sana, kami mulai pembicaraan dengan gombalanku…
“Sum, kamu nyatanya manis juga… bodymu bagus,” kataku menggombal. “Coba jika kenalnya masih tetap saling bujang, tentu tidak pacari kamu.”
“ah.. sampeyan dapat saja mas,” kata tumi, sekalian meringis saatku usap sisi yg memar.
“Iya, bodymu mantap, susumu joss, bokongmu semok… hehehe…,” kataku, “pasti suamimu senang sekali itu…”

Tumi semakin tersipu malu. “Ngomong apakah sampeyan itu mas…” “Lho, ya ngomong masalah suami istri… kan sudah tahu sama tahu masalah itu kan…?” kataku. Serta tiada sadar, saya mulai tenggelam.. waktu melihat muka tumi yang tidak berapakah jauh dari wajahku sekalian mengurutnya eh mengelus kakinya. Semakin manis di pandanganku. Semakin lama pandanganku turun mengarah dadanya.. serta terpaku disana, sekalian tanganku selalu mengelus betisnya. Tidak berasa, tanganku sudah berubah ke atas lututnya serta menarik ke atas legging hitam ketat yang dipakainya, serta mengelus2 sisi itu sekalian selalu melihat dadanya. Tidak diduga tumi mencengangkan aku… “hayo.. lihat apakah?” Kujawab spontan “penasaran dengan isi di dalamnya” Ia juga memukul lenganku. Saya ketawa saja, sekalian selalu mengelus pahanya, sekalian tangan kiriku memijit2 pangkal pahanya di luar celananya.

Lumayan lama kami berdiam diri, sekalian saya selalu mengelus pahanya, alih-alih mengurut. Tidak diduga tumi bergumam.. “emmmhhh….” Saya terperanjat serta menanyakan, “kenapa Sum? Sakit?” Ia menjawab, “gak apa-apa mas” sekalian nafasnya cukup tersengal serta matanya mulai sendu. Saya tahu ia mulai horny karena elusanku. Selekasnya saja wajahku mendekat ke mukanya serta mencium bibirnya. Tumi membalas dengan lembut. Saya hentikan kegiatan tanganku di pahanya, serta berubah ke dadanya. Kuremas lembut toket jumbonya…
“Uuuuggghhh…. sssshhhhhh enak masssss” rintih tumi. Saya juga tidak hentikan ciumanku sekalian menyusupkan tanganku dibalik kaosnya. Memutari tubuhnya serta melepas kait Bhnya. Lantas tangan kananku sampai pada dua bukit kembar montok yg sampai kini ku impikan… Kupilin putingnya yang tidak berapa besar.. ia semakin kuat rintihannya… “masssss….. auuuggghh.. geliii.. nikmaatttt…” Tunjukkan keberuntunganmu dengan bermain Capai uang sebanyak

Tidak terlalu lama selekasnya kuangkat kaos tersebut BHnya. Tersembullah dua benda kenyal yang tegak mengacung dengan gagah di depanku. “wooowww.. susumu indah sekali, Sum…,” kataku. Selekasnya ku remas dua benda impianku itu, sekalian mengarahkan bibirku mencumbu belakang telinga serta turun ke lehernya. Tumi cuma mendesah-desah sekalian tangannya memelukku serta menyelusup ke kaosku. Pada akhirnya kubuka kaosku. Kami berdua bertelanjang dada. Selekasnya saja saya oleskan lidahku ke seputar puting coklat muda tumi, yang membuat semakin mendesah sekalian mengusung pantatnya… “arrrggghhhhh… masssss…. terussss.. iseeeeph maaassssshhh….” Saya menuruti kemauannya.. saya jilat, hisap.. jilat, hisap bergantian yang membuat tumi semakin blingsatan. Tangannya menggapai-gapai mencari tongkat ajaibku… Ia sukses temukan serta merogoh celana boxerku, yg pagi itu tidak sedang berlapis CD.
“ooohh.. massssh… gede sekali kontolmu.. tempikku tidak muat massssh…” rintihnya.. Saya tidak perduli.. saya repot nikmati kenyalnya susu tumi. Saya belumlah puas….

Perlahan, saya tujukan tanganku ke celana legging yang dipakainya. Sampailah jariku di rimba belantara punya tumi yang telah mulai becek… saya pijit-pijit bibir memeknya.. saya susuri belahan bukit rimbunnya utk mencari sebiji kacang kenyal di dalamnya. Demikian bertemu, selekasnya kupijit2 lembut butiran kenyal itu.. serta membuat tumi semakin blingsatan… “masssshhh.. kamu apain itilku….uuuuggghhhh… masssshhh… tidak kuaattthh….???

Selekasnya saya pelorot celananya, tumi menolong memudahkan dengan mengusung pinggulnya. Jadilah kami saling bugil di ruangan tengahku. Perlahan-lahan, tumi saya baringkan di karpet, ia nurut saja sekalian selalu mengocok lembut joy stick-ku. Mulutku berubah dari toket ke perutnya sampai hingga ke memiawnya…. tumi semakin mendesah kencang waktu hembusan nafasku menghangatkan memek tembemnya. Kami ambil tempat 69. tumi selekasnya mencapai batangku serta masukkan ke mulutnya… bibir serta lidahnya berasa lembut menyentuh palkonku.. hisapannya membuat saya seringkali mengejang… serta saya membalasnya dengan menjilat serta menyedot2 lubang kenikmatannya…. Meskipun Hanya penjual telur, tetapi meki tumi baunya harum sebab ia rajin konsumsi jamu ramuan madura. Kujilat serta kuhisap2 bibir mekinya…. Kukunyah2 lembut clitorisnya.. serta nyatanya itu membuat pertahanannya jebol.

“massssshhh…. kamu apain itilku massssshhhh…. saya ingin dapeeeetttth…. uuugggghhhhh….. sssshhhhh…” Serta, berasa begitu semakin beceknya memeknya disiram dengan cairan orgasmenya. Sumi lemas sekalian mendesis-desis keenakan. “aduuuhh masshh… enyaaakh…. sudah lama saya tidak beginian…hhhh…. sshhh..” “hah? Masak sich?” tanyaku. “iya mash… suamiku habis jatuh, kontolnya tidak dapat ngaceng kembali..” kata Sumi…

“Oalah Suuuumm.. kasihan sekali kamu.. eman bangeeet….. sini saat ini saya puasin… ,” kataku. “iyo massh… puasin aku…,” balas Sumi. Langsung saya kenyot kembali susu montok itu. “uuuggghhh… massshhh… mari masssshh.. puasin akuuuu….” Sumi mengeluh. Tangannya selekasnya mencapai serta mengocok kontolku. Saya sodorin ke mulutnya. Dijilat, disedot dari palkon sampai sun hole-ku… membuat saya semakin bergairah mengerjakan Sumi.

Sesudah saya perasaan cukuplah becek, selekasnya saya tujukan kontolku ke memek Sumi… Sumi cuma mendesis-desis kenikmatan… Saya usap-usapkan palkon ke belahan meki Sumi… lama-lama semakin licin.. jadi ku doronglah batangku sampai ambles seluruhnya… blleeeepppsssph… Gileeee… mekinya peret abiiiissss… memang bener kata orang, empot2 ayam Madura punya….“auuuughh…….. mmaassshhh…. seseeeeekkkhhhh…. gedhe bangeth kontol kamu masssshh…. miliki bojoku tidak segede iniiiihhh…. uuuughhh… ssshhh…” “enakh ya Sum…. tempik kamu peret serta legit Sum…. enak manakah sama suami kamu..??” “enakh ini masshh… mari masshh.. genjoth terussshh… puasin akuuuuhh.. sshhhh….” kata Sumi sekalian matanya merem melek keenakan…

Sesudah 10 menit, Sumi lelah, meminta ubah tempat. Tiada melepas diri, kami bertukar women on top. Sumi dikit mengernyit kesakitan waktu lututnya yg memar coba ditekuk sebab ia mengambil tempat jongkok. Akan tetapi itu tidak lama sebab kalah dengan kesenangan yang ia terima karena meki legitnya diobok-obok sama belalai gajahku.. hehehehe… Dalam tempat ini, jepitan serta empotan Sumi semakin berasa memijat-mijat batangku. Ia menggoyang pinggulnya membuat kontolku terasa dipilin-pilin… gabungan empotan, pijitan serta putaran membuatku hampir jebol… Saya coba bertahan…

Sumi selalu bergoyang sekalian mendesis-desis keenakan.. hingga kemudian goyangannya semakin tidak beraturan… serta tidak diduga ia melenguh…”uuggghhh… massss…. saya nyampe lagiiii….. heeeghhhh….” tuturnya sekalian saya rasakan kontolku seperti dijepit ama besi… kenceng sekali jepitannya… sesudah beberapa kedutan, tubuhnya ambruk menindihku…. sekalian berbisik.. “massh.. kamu kuat bangeth…. hhhuuuuffftttt…” saya Hanya tersenyum serta meremas2 pantatnya… “Sekarang kamu puasin saya ya Sum?” Sumi cuma mengangguk. Saya ajak Sumi mengambil tempat DS, tetapi sebab lututnya sakit, jadi saya suruh berdiri nungging sekalian berpegangan pada sandaran sofa.. Wuuuuiiihhhh…. seksi sekali Sumi dalam tempat begini… Susunya gede menggantung akan tetapi tidak kendor.. meki tembemnya muncul di celah paha dengan rona merah muda diantara bulu2 hitam… uuuhhh.. seksiiiii….

Tidak lama, sesudah saya sedot-sedot serta kocok dengan jariku, meki Sumi sudah siap terima tongkat ajaib pembawa nikmat…. Selekasnya saya mengambil tempat serta.. blllessshhhppph…. “uuggghhhhh….” Sumi melenguh saat kontolku masuk mekinya…. Genjot… genjot… sekalian meremas2 susu Sumi yang seksi waktu bergoyang-goyang sebab genjotanku… semakin meningkatkan seksi…. Seputar 10 menitan dalam tempat DS, saya rasakan meki Sumi berkedut-kedut kembali.. sepertinya ingin orgasme yg ke-3 kalinya.. jadi kupercepat kocokanku di mekinya… Tidak berapakah lama lalu , Sumi menjerit…” massssshhh… ingin nyampe lagiiii….. mari masssshhhh… genjooottthhh….” “iya Summmh…. saya pun sudah ingin nyampe… sssshhhh…. kita berbarengan yaaa… ,“ kataku.

“ayo mashhh…. tidak kuat kembali mashhhh….mmmaaaashhhhhh….. uuuuffffttt…..” Sumi semakin meracau. Saat yg sama, kontolku sudah berdenyut-denyut juga. Kupercepat tempo kocokanku sampai akhirnyaaaa… “Suuuuuummmhhh… saya keluarrrrrrrhhhhh…..” kataku. “Semprot di saja mash…. heeeeegghhh….” jawab Sumi sekalian mengejang sebab orgasmenya telah tiba bersamaan dengan saya menyemprotkan spermaku beberapa kali…Dalam tempat demikian, saya masih tetap rasakan kedutan serta pijitan yg mengagumkan dari meki legit Sumi. Sekalian menanti kontolku mengecil, tetap harus kutancapkan di meki Sumi sekalian selalu meremas-remas toket idamanku…. Serta pada akhirnya plooph.. kontolku telah mengkerut sebab senang.. hehehe….

Lantas kami bersih2 diri di kamar mandi, cuma sama-sama gosok waktu menyabuni. Tidak main kembali, sebab takut Sumi dinanti Bik Sari yang pasti siap-siap pulang sebab hari telah mendekati siang. Tidak berasa satu jam lebih kami bergumul. Saya pergi ke jalan untuk kembali lihat keadaan. Sebab telah cukup siang, jalanan di muka rumah telah mulai sepi, jadi saya berikan kode pada Sumi untuk keluar serta kembali pada kiosnya. Saya tidak tahu apakah fakta Sumi pada bik Sari, yg terpenting saya tahu satu perihal, Sumi serta saya senang. Sebelum berpisah, kami janji utk seringkali share kesenangan, sebab saya ialah orang yang baik hati, menolong menyirami kegersangan rumput tetangga

Senin, 21 Januari 2019

Kenangan Yang Tak Bisa Kulupakan Dengan Guru Cantik Ketika Mendaki Bersama


Pada suatu liburan sekolah yang panjang, kami dari sebuah SLTA mengadakan pendakian gunung di Jawa Timur. Rombongan terdiri dari 5 laki² dan 5 wanita. Diantara rombongan itu satu guru wanita (guru biologi) dan satu guru pria (guru olah raga).

Acara liburan ini sebenarnya amat tidak didukung oleh cuaca. Soalnya, acara kami itu diadakan pada awal musim hujan. Tapi kami tidak sedikit pun gentar menghadapi ancaman cuaca itu.

Ada yang sedikit mengganjal hati saya, yakni Ibu Guru Anisa (saya memanggilnya Anisa) orangnya terkenal galak dan judes itu dan anti cowok! denger² dia itu lesbi. Ada yang bilang dia patah hati dari pacarnya dan kini sok anti cowok.

Bu Anisa umurnya belum 30 tahun, sarjana, cantik, tinggi, kulit kuning langsat, full press body. Sedangkan teman² cewek lainnya terdiri dari cewek bawel tapi cantik² dan periang, cowoknya, terus terang saja, semuanya bandit asmara ! termasuk pak Martin guru olah raga kami itu.

Perjalanan menuju puncak gunung, mulai dari kumpul di sekolah hingga tiba di kaki gunung di pos penjagaan I kami lalui dengan riang gembira dan mulus² saja. Seperti biasanya rombongan berangkat menuju ke sasaran melalui jalan setapak.

Sampai tengah hari, kami mulai memasuki kawasan yang berhutan lebat dengan satwa liarnya, yang sebagian besar terdiri dari monyet² liar dan galak. Menjelang sore, setelah rombongan istirahat sebentar untuk makan dan minum, kami berangkat lagi.

Kata pak Martin sebentar lagi sampai ke tujuan. Saking lelahnya, rombongan mulai berkelompok dua². Kebetulan aku berjalan paling belakang menemani si bawel Anisa dan disuruh membawa bawaannya lagi, berat juga sih, sebel pula! Sebentar² minta istirahat, bahkan sampai 10 menit, lima belas menit, dan dia benar² kecapean dan betisnya yang putih itu mulai membengkak.

Kami berangkat lagi, tapi celaka, rombongan di depan tidak nampak lagi, nah lo ?! Kami kebingungan sekali, bahkan berteriak me-manggil² mereka yang berjalan duluan. Tak ada sahutan sedikit pun, yang terdengar hanya raungan monyet² liar, suara burung, bahkan sesekali auman harimau.

Anisa sangat ketakutan dengan auman harimau itu. Akhirnya kami terus berjalan menuruti naluri saja. Rasa²nya jalan yang kami lalui itu benar, soalnya hanya ada satu jalan setapak yang biasa dilalui orang.

Sial bagi kami, kabut dengan tiba² turun, udara dingin dan lembab, hari mulai gelap, hujan turun rintik². Anisa minta istirahat dan berteduh di sebuah pohon sangat besar. Hingga hari gelap kami tersasar dan belum bertemu dengan rombongan di depan. Akhirnya kami memutuskan untuk bermalam di sebuah tepian batu cadas yang sedikit seperti goa.

Hujan semakin lebat dan kabut tebal sekali, udara menyengat ketulang sumsum dinginnya. Bajuku basah kuyup, demikian juga baju Anisa. Dia menggigil kedinginan. Sekejap saja hari menjadi gelap gulita, dengan tiupan angin kencang yang dingin. Kami tersesat di tengah hutan lebat.

Tanpa sadar Anisa saking kedinginan dia memeluk aku. “Maaf” katanya. Aku diam saja, bahkan dia minta aku memeluknya erat² agar hangat tubuhnya. Pelukan kami semakin erat, seiring dengan kencangnya deras hujan yang dingin. Jika aku tak salah, hampir tiga jam lamanya hujan turun, dan hampir tiga jam pula kami berpelukan menahan dingin.

Setelah hujan reda, kami membuka ransel masing². Tujuan utamanya adalah mencari pakaian tebal, sebab jaket kami sudah basah kuyup. Seluruh pakaian bawaan Anisa basah kuyup, aku hanya punya satu jaket parasut di ransel.

Anisa minta aku meminjamkan jaketku. Aku setuju. Tapi apa yag terjadi ? wow… Anisa dalam suasana dingin itu membuka seluruh pakaiannya guna diganti dengan yang agak kering. Mulai dari jaket, T. Shirt nya, BH nya, wah aku melihat seluruh tubuh Anisa. Dia cuek saja, payudaranya nampak samar² dalam gelap itu. Tiba² dia memelukku lagi.

“Dingin banget” katanya. “ Gimana gak dingin, habis kamu nya bugil begini” jawabku.
“Habis bagaimana? basah semua, tolong pakein aku jeketmu dong ?” pinta Anisa.

Aku memakaikan jaket parasut itu ketubuh Anisa. Tanganku bersentuhan dengan payudaranya, dan aku berguman.

” Maaf Anisa ?”
“Enggak apa² ?!”: sahutnya.

Hatiku jadi nggak karuan, udara yang aku rasakan dingin mendadak jadi hangat, entah apa penyebabnya. Anisa merangkulku, “Dingin” katanya, aku peluk saja dia erat². ” Hangat Anisa ?” tanyaku ” iya, hangat sekali, yang kenceng dong meluknya ” pintanya. Otomatis aku peluk erat² dan semakin erat.

Aneh bin ajaib, Anisa tampak sudah berkurang merasakan kedinginan malam itu, seperti aku juga. Dia meraba bibirku, aku reflex mencium bibir Anisa. Lalu aku menghindar. “Kenapa?” tanya Anisa

” Maaf Anisa ? ” Jawabku.
” Tidak apa² Rangga, kita dalam suasana seperti ini saling membutuhkan, dengan begini kita saling bernafsu, dengan nafsu itu membangkitkan panas dalam darah kita, dan bisa mengurangi rasa dingin yang menyengat.

Kembali kami berpelukan, berciuman, hingga tanpa sadar aku memegang payudaranya Anisa yang montok itu, dia diam saja, bahkan seperti meningkat nafsu birahinya. Tangannya secara reflek merogoh celanaku kedalam hingga masuk dan memegang penisku.

Kami masih berciuman, tangan Anisa melakukan gerakan seperti me-ngocok² ‘Mr. Penny’ku. Tanganku mulai merogoh ‘Ms. Veggy’nya Anisa, astaga,, dia rupanya sudah melepas celana dalamnya sedari tadi.

Karena remang² aku sampai tak melihatnya. ‘Ms. Veggy’nya hangat sekali bagian dalamnya, bulunya lebat. Anisa sepontan melepas seluruh pakaiannya, dan meminta aku melepas pula.

Aku tanpa basa basi lagi langsung bugil. Kami bergumul diatas semak², kami melakukan hubungan badan ditengah gelap gulita itu. Kami saling ganti posisi, Anisa meminta aku dibawah, dia diatas. Astaga, goyangnya!! Pengalaman banget dia? kan belum kawin ?

” Kamu kuat ya?” bisiknya mesra.
” Lumayan sayang ?!” sahutku setengah berbisik.
” Biasa main dimana ?” tanyanya
“Ada apa sayang?” tanyaku kembali.
” Akh nggak” jawabnya sambil melepas ‘Ms. Veggy’nya dari ‘Mr. Penny’ku, dan dengan cekatan dia mengisap dan menjilati ‘Mr. Penny’ku tanpa rasa jijik sedikit pun.

Anisa meminta agar aku mengisap payudaranya, lalu menekan kepalaku dan menuntunnya ke arah ‘Ms. Veggy’nya. Aku jilati ‘Ms. Veggy’ itu tanpa rasa jijik pula. Tiba² saja dia minta senggama lagi, lagi dan lagi, hingga aku ejakulasi.

Aku sempat bertanya, “Bagaimana jika kamu hamil ?”
” Don’t worry !” katanya.

Dan setelah dia membersihkan ‘Ms. Veggy’nya dari spermaku, dia merangkul aku lagi. Malam semakin larut, hujan sudah reda, bintang² di langit mulai bersinar. Pada jam 12 tengah malam, bulan nampak bersinar terang benderang. Paras Anisa tampak anggun dan cantik sekali.

Kami ngobrol ngalor - ngidul, soal kondom, soal sekolah, soal nasib guru, dsb. Setelah ngobrol sekian jam, tepat pukul 3 malam, Anisa minta bersetubuh denganku lagi, katanya nikmat sekali ‘Mr. Penny’ku. Aku semakin bingung, dari mana dia tahu macam² rasa ‘Mr. Penny’, dia kan belum nikah? tidak punya pacar? kata orang dia lesbi.

Aku menuruti permintaan Anisa. Dia menggagahi aku, lalu meminta aku melakukan pemanasan sex (foreplay). Mainan Anisa bukan main hebatnya, segala gaya dia lakukan. Kami tak peduli lagi dengan dinginnya malam, gatalnya semak². Kami bergumul dan bergumul lagi. Anisa meraih tanganku dan menempelkan ke payudaranya.

Dia minta agar aku me-remas² payudaranya, lalu memainkan lubang ‘Ms. Veggy’nya dengan jariku, menjilati sekujur bagian dagu. Tak kalah pula dia me-ngocok² ‘Mr. Penny’ku yang sudah sangat tegang itu, lalu dijilatinya, dan dimasukkannya ke lubang vaginanya, dan kami saling goyang menggoyang dan hingga kami saling mencapai klimaks kenikmatan, dan terkulai lemas.

Anisa minta agar aku tak usah lagi menyusul kelompok yang terpisah. Esoknya kami memutuskan untuk berkemah sendiri dan mencari lokasi yang tak akan mungkin dijangkau mereka. Kami mendapatkan tempat ditepi jurang terjal dan ada goa kecilnya, serta ada sungai yang bening, tapi rimbun dan nyaman. Romantis sekali tempat kami itu. Aku dan Anisa layaknya seperti Tarzan dan pacarnya di tengah hutan. Sebab seluruh baju yang kami bawa basah kuyup oleh hujan.

Anisa hanya memakai selembar selayer yang dililitkan diseputar perut untuk menutupi kemaluannya. Aku telanjang bulat, karena baju kami sedang kami jemur ditepi sungai. Anisa dengan busana yang sangat minim itu membuat aku terangsang terus, demikian pula dia. Dalam hari² yang kami lalui hanya makan mie instant dan makanan kaleng.

Tepat sudah tiga hari kami ada ditempat terpencil itu. Hari terakhir, sepanjang hari kami hanya ngobrol dan bermesraan saja. Kami memutuskan esok pagi kami harus pulang. Di hari terakhir itu, kesempatan kami pakai semaksimal mungkin. Di hari yang cerah itu, Anisa minta aku mandi bersama di sungai yang rimbun tertutup pohon² besar.

Kami mandi berendam, berpelukan, lalu bersenggama lagi. Anisa menuntun ‘Mr. Penny’ku masuk ke ‘Ms. Veggy’nya. Dan dia menggoyangkan pinggulnya agar aku merasa nikmat. Aku demikian pula, semakin menekan ‘Mr. Penny’ku masuk kedalam ‘Ms. Veggy’nya.

Di atas batu yang ceper nan besar, Anisa membaringkan diri dengan posisi menantang, dia menguakkan selangkangngannya, ‘Ms. Veggy’nya terbuka lebar, disuruhnya aku menjilati bibir ‘Ms. Veggy’nya hingga klitoris bagian dalam itu.

Dia merasakan nikmat yang luar biasa, lalu disuruhnya aku memasukkan jari tengahku ke dalam lubang ‘Ms. Veggy’nya, dan menekannya dalam². Mata Anisa merem melek kenikmatan. Tak lama kemudian dia minta aku yang berbaring, ‘Mr. Penny’ku di elus, diciumi, dijilati, lalu diisapnya dengan memainkan lidahnya, Anisa minta agar aku jangan ejakulasi dulu.

“Tahan ya ?” pintanya. ” Jangan dikeluarin lho ?!” pintanya lagi.

Lalu dia menghisap ‘Mr. Penny’ku dalam². Setelah dia nggak tahan, lalu dia naik diatasku dan memasukkan ‘Mr. Penny’ku di ‘Ms. Veggy’nya, wah, goyangnya hebat sekali, akhirnya dia yang kalah duluan. Anisa mencubiti aku, menjambak rambutku, rupanya dia ” keluar”, dan menjerit kenikmatan, lalu aku menyusul yang “keluar” dan oh,,,, oh… oh… Crroot… Crrrooot…Muncratlah air maniku dilubang ‘Ms. Veggy’ Anisa.

“Jahat kamu ?!” kata Anisa seraya menatapku manja dan memukuli aku pelan dan mesra. Aku tersenyum saja. ” Jahat kamu Rangga, aku kalah terus sama kamu ” Ujarnya lagi. Kami sama² terkulai lemas diatas batu itu.

Esoknya kami sudah berangkat dari tempat yang tak akan terlupakan itu. Kami memadu janji, bahwa suatu saat nanti kami akan kembali ke tempat itu. Kami pulang dengan mengambil jalan ke desa terdekat dan pergi ke kota terdekat agar tidak bertemu dengan rombongan yang terpisah itu.

Dari kota kecil itu kami pulang ke kota kami dengan menyewa Taxi, sepanjang jalan kami berpelukan terus di dalam Taxi. Tak sedikit pun waktu yang kami sia²kan. Anisa menciumi pipiku, bibirku, lalu membisikkan kata.

” Aku suka kamu ” Aku juga membalasnya dengan kalimat mesra yang tak kalah indahnya. Dalam dua jam perjalanan itu, tangan dan jari² Anisa tak henti²nya merogoh celana dalamku, dan memegangi ‘Mr. Penny’ku.

Dia tahu aku ejakulasi di dalam celana, bahkan Anisa tetap me-ngocok²nya. Aku terus memeluk dia, pak Supir tak ku ijinkan menoleh kami kebelakang, dia setuju saja. Sudah tiga kali aku ”keluar” karena tangan Anisa selalu memainkan ‘Mr. Penny’ku sepanjang perjalanan di Taxi itu.

” Aku lemas sayang ?!” bisikku mesra.
” Biarin !” Bisiknya mesra sekali. ” Aku suka kok!” Bisiknya lagi.

Tidak mau ketinggalan aku merogoh celana olah raga yang dipakai Anisa. Astaga, dia tidak pakai celana dalam. Ketika jari² tanganku menyolok ‘Ms. Veggy’nya, dia tersenyum, bulunya ku-tarik², dia meringis, dan apa yang terjadi? astaga lagi, Anisa sudah ‘keluar’ banyak, ‘Ms. Veggy’nya basah oleh semacam lendir, rupanya nafsunya tinggi sekali, becek banget. Tangan kami sama² basah oleh cairan kemaluan.

Ketika sampai di rumah Anisa, aku disuruhnya langsung pulang, nggak enak sama tetangga katanya. Dia menyodorkan uang dua lembar lima puluh ribuan, aku menolaknya, biar aku saja yang membayar Taxi itu.

Lalu aku pulang. Hari² berikutnya di sekolah, hubunganku dengan Anisa guru biologiku, nampak wajar² saja dari luar. Tapi ada satu temanku yang curiga, demikian para guru. Hari² selanjutnya selalu bertemu di-tempat² khusus seperti hotel diluar kota, di pantai, bahkan pernah dalam suatu liburan kami ke Bali selama 12 hari.

Ketika aku sudah menyelesaikan studiku di SLTA, Anisa minta agar aku tak melupakan kenangan yang pernah kami ukir. Aku diajaknya ke sebuah Hotel disebuah kota, ya seperti perpisahan. Karena aku harus melanjutkan kuliah di Australia, menyusul kakakku.

Alangkah sedihnya Anisa malam itu, dia nampak cantik, lembut dan mesra. Tak rela rasanya aku kehilangan Anisa. Kujelaskan semuanya, walau kita beda usia yang cukup mencolok, tapi aku mau menikah dengannya.

Anisa memberikan cincin bermata berlian yang dipakainya kepada aku. Aku memberikan kalung emas bermata zamrud kepada Anisa. Cincin Anisa hanya mampu melingkar di kelingkingku, kalungku langsung dipakainya, setelah dikecupinya.

Anisa berencana berhenti menjadi guru, “sakit rasanya” ujarnya kalau terus menjadi guru, karena kehilangan aku. Anisa akan melanjutkan S2 nya di USA, karena keluarganya ada disana. Setelah itu kami berpisah hingga sekian tahun, tanpa kontak lagi.

Pada suatu saat, ada surat undangan pernikahan datang ke Apartemenku, datangnya dari Dra. Anisa Maharani, MSC. Rupanya benar dia menyelesaikan S2 nya. Aku terbang ke Jakarta, karena resepsi itu diadakan di Jakarta disebuah hotel bintang lima.

Aku datang bersama kakakku Rina dan Papa. Di pesta itu, ketika aku datang, Anisa tak tahan menahan emosinya, dia menghampiriku ditengah kerumunan orang banyak itu dan memelukku erat², lalu menangis se-jadi²nya.

“Aku rindu kamu Rangga kekasihku, aku sayang kamu, sekian tahun aku kehilangan kamu, andai saja laki² disampingku dipelaminan itu adalah kamu, alangkah bahagianya aku ” Kata Anisa lirih dan pelan sambil memelukku.

Kamu jadi perhatian para hadirin, Rina dan Papa saling tatap kebingungan. Ku usap airmata tulus Anisa. Kujelaskan aku sudah selesai S1 dan akan melanjutkan S2 di USA, dan aku berjanji akan membangun laboratorium yang kuberi nama Laboratorium “Anisa”. Dia setuju dan masih meneteskan air mata.

Setelah aku diperkenalkan dengan suaminya, aku minta pamit untuk pulang, aku pun tak tahan dengan suasana yang mengharukan ini. Setelah lima tahun tak ada kabar lagi dari dia, aku sudah menikah dan punya anak wanita yang kuberi nama Anisa Maharani, persis nama Anisa. Ku kabari Anisa dan dia datang kerumahku di Bandung, dia juga membawa putranya yang diberi nama Rangga, cuma Rangga berbeda usia tiga tahun dengan Anisa putriku.

Aku masih merasakan getaran² aneh di hatiku, tatapan Anisa masih menantang dengan panas, senyumnya masih menggoda. Kami pun akhirnya sepakat untuk menjodohkan anak kami kelak, jika Tuhan mengijinkannya.

Kamis, 17 Januari 2019

Tante Mona Yang Suka Penis Besar

Tante Mona Yang Suka Penis Besar

Setelah sepuluh tahun berlalu aku ditinggalkan ibuku yang meninggal dunia, mulanya aku tidak terbiasa tanpa adanya kehadiran seorang ibu di dalam kehidupanku. Namun semakin bergulirnya waktu, aku mulai membiasakan diri hingga kurang lebih sepuluh tahunan waktu berlalu dan aku menjalani kehidupan sehari-hari dengan enjoy, berbeda dengan ayahku yang selalu merasa kesepian. Ayahku selalu saja meminta izin kepadaku untuk menikah lagi, dengan rasa kasihan terhadap ayahku yang merasa kesepian, aku pun mengizinkan permintaannya itu.

Ayahku sendiri sedang dekat dengan seorang wanita yang bernama tante Mona. Aku sering kali mempergoki ayah dan tante Mona tengah asik berpelukan ketika menonton tv. Terkadang dengan nakalnya tangan ayahku mengelus-elus buah dadanya tante Mona dengan gairah yang menggebu-gebu. Tante Mona memiliki wajah yang cantik, body semok dan juga buah dadanya yang begitu terlihat mengkel berisi. Sejak kehadiran tante Mona di rumah, aku jadi sering ngocok hanya dengan membayangkan tubuh tante Mona yang seksi apalagi payudaranya yang terlihat montok hingga rasanya ingin aku remas-remas.

Sejak mendapatkan izin dariku untuk menikah lagi, ayahku terus membantu tante Mona ke rumah. Umur tante Mona 35 tahun lebih muda dari ayahku 7 tahun. Meskipun sudah berumur 35 tahun, tante Mona memiliki wajah yang cantik dan juga tubuh yang semok. Tante Mona sendiri bekerja sebagai staff di salah satu perusahaan ternama.

Ketika hari libur tepatnya hari Minggu, tiba-tiba saja aku dibuat kaget dengan bunyi pecahan gelas di dapur. Aku segera menghampiri suara tersebut dan disana ada tante Mona yang tengah membersihkan pecahan kaca tersebut.

"Awas jangan mendekat dulu, ada banyak serpihan kaca yang belum dibersihkan, tadi aku tidak sengaja menjatuhkan gelas dan akhirnya pecah" ujar tanpa Mona sambil jongkok membersihkan serpihan kaca yang bertaburan.

Saat itu aku masih dalam keadaan mengantuk lantaran terbangun dari tidur karena terkejut mendengar suara itu, namun aku mendapatkan pemandangan yang bagus ketika melihat pantat tante Mona yang bahenol saat jongkok membersihkan serpihan kaca itu membuat mataku menjadi melek.

"Nak, bisa tolong tante untuk mengambilkan sapu" ujarnya menyuruhku.
"Ok tante, aku akan segera ambilkan" balasku yang kemudian mencari sapu.

Sambil mencari-cari sapu yang dibutukan tante Mona, aku sekalian membayangkan pantat montok tante Mona yang membuat kontolku menjadi tegang yang berada didalam celana kolor yang kupakai. Sehabis menemukan sapunya, aku segera bergegas kembali ke dapur dan mengelus-elus kontolku dengan tangan dari luar celana.

"Tan, ini sapunya.. ohh iya papa dimana ya tan?" tanyaku.
"Ayah kamu sudah berangkat bekerja sejak dari subuh. Katanya dia mendapatkan tugas secara mendadak dan harus segera ke kantor pusat yang berada di Jakarta. Tante diperintahkan untuk menemani kamu sekaligus membuatkan makanan untuk kamu, oh iya kamu mau makan apa? biar tante masakan" ujarnya yang masih membersihkan serpihan kaca.
"Aku mau makan nasi goreng saja tan" sahutku yang kemudian menuju ke kamar mandi.

Nafsuku semakin meningkat saat memperhatikan pantatnya tante Mona yang masih membersihkan pecahan gelas itu ketika sedang menyapunya. Pantat dan payudaranya yang montok bergoyang mengikuti pergerakan tubuhnya. Di kamar mandi aku langsung mengocok sambil membayangkan yang barusan aku lihat. Setelah mencapai puncak, kemudian aku mandi.

Setelah selesai mandi, aku hanya mengenakan handuk yang terlilit seperti rok perempuan dan menuju ke dapur untuk menanyakan nasi goreng untukku sudah siap atau belum. Namun, setelah ke dapur aku justru melihat pemandangan indah lainnya. Aku melihat lekukan pantat tante Mona yang menggairahkan saat memasak.

Ntah bagaimana aku bisa memberanikan diri untuk memeluk tante Mona dari belakang yang sedang memasak. Kemudian aku ciumi lehernya dan tante Mona mencoba untuk berontak namun aku semakin menjadi-jadi.

"Aduuhh kakak ngapain sih.. jangan begini dong.. tante ini kan calon ibu tiri kamu" keluhnya.
"Hhhmm.. udah tante diam saja, tante gak cocok tahu jadi ibu tiriku.. tante cocoknya jadi pelacur ayahku" ujarku dengan geram.
"Loh kamu ngomong apa sih kak, tante mohon hentikan" ujarnya yang semakin lama semakin pelan dan nampaknya tante Mona sudah mulai terangsang lantaran terus aku kecupi lehernya.
"Sudah tante diam dan nurut saja, aku lagi sange berat nih tante. Sekarang kan di rumah hanya kita berdua saja, aku tahu kok semalam tanpa abis ngentot dengan ayahku, aku hanya mendengar suara erangan ayahku tapi tidak ada erangan dari tante, tante tidak puaskan bercinta dengan ayah" bisikku dengan pelan sambil terus mengelus dan meremas pantatnya yang bahenol.
"Sudah kak lepasin tante" rengeknya dan menolak tanganku yang sedang mengelus pantatnya.

Aku sudah tidak memperdulikan perkataannya dan terus mencumbuhi tante Mona. Aku sebenarnya tahu kalau saja tante Mona begitu liar dalam berhubungan seks, namun sekarang dia belum terpancing nafsunya. Tante Mona membutuhkan waktu untuk membuatnya terangsang dan semakin menjadi gairah seksnya.

Mulut dan lidahku dengan buas mengecup dan menjilati lehernya ditambah tanganku yang mulai bermain di payudara tante Mona. Aku remas-remas payudara yang sudah lama membuat aku penasaran dan ntah setan mana yang membuatku menginginkan lebih dari sekedar meremas dan menciumi saja. Dengan cepat aku membuka paksa daster yang dikenakan tante Mona dari belakang dengan merobeknya.

Terlihat jelas punggung tante Mona yang begitu putih mulus dan pantatnya yang tidak mengenakan celana dalam membuat kontolku semakin tegang dengan keras. Tidak mau berlama-lama lagi untuk bisa menikmati dengan segera tubuh tante Mona, aku menyuruhnya untuk menungging secara paksa meskipun dia bersikeras terus memberontak. Namun aku sudah tidak memperdulikan itu, justru aku semakin bernafsu dan langsung memasukkan kontolku dari belakang.

"Tolong hentikan kak, aku ini adalah calon ibumu" jeritnya terisak tangis.
"Aduhh tante dari tadi berisik, tante cukup diam saja, tante kan belum jadi ibuku" ujarku sambil memasukkan kontolku ke dalam liang kemaluan tante Mona dari belakang.

Aku pikir kemaluan tante Mona belum becek, sepertinya memang dia belum merasakan rangsangan yang telah aku lakukan. Kemudian kutarik lagi kontolku dan kemudian duduk berjongkok untuk menjilati kemaluan tante Mona dari belakang saat dia menungging.

"Aarrgghh.. aaahhh.. sekarang apa yang kamu lakukan kak" tanyanya sambil mendesah seperti biasanya wanita merasakan kenikmatan.

Aku terus menjilati memeknya tante Mona layaknya seperti anjing yang sedang kehausan. Aku rasakan aroma khas kemaluannya dan aku merasakan tante Mona sudah mulai merasakan rangsangan yang aku berikan. Tante Mona sudah tidak berontak lagi, justru dia merasakan kenikmatan saat aku jilati vaginanya hingga dia berpegangan pada meja kompor di dapur.

Tante Mona semakin terangsang hingga dia sendiri yang menunggingkan dan menggoyang-goyangkan pantatnya kearahku. Betapa senangnya aku saat tante Mona sudah mulai menikmati permainan yang aku berikan dan aku pun begitu menikmati saat menjilati memeknya tante Mona dan memegang dan juga meremas bongkahan pantatnya yang begitu montok.

"Sudah kak aku menyerah, jika memang kamu ingin menikmati tubuhku dan memuaskanku, aku izinkan namun tolong jaga rahasia ini ya, Kejadian ini jangan sampai ayahmu tahu, kamu kan tahu sendiri kalo tante benar-benar sayang sama ayahmu dan tante tidak menginginkan pernikahan tante dan ayahmu gagal, tante harap kamu melakukan hal seperti ini hanya sekali dan tante ingin setia kepada ayahmu" pintanya yang sudah pasrah.

Setelah itu tante Mona merubah posisinya yang menghadap kearahku dan aku berdiri tepat di hadapannya yang menatap tajam matanya. Tiba-tiba saja aku disosor dengan buasnya dengan bibir yang seolah tidak ada hari esok. Sontak aku langsung membalas sosorannya sambil meremas-remas payudaranya. Setelah tante Mona sudah benar-benar terangsang, aku mengangkat tubuhnya ke atas meja makan dan langsung kumasukkan kontolku yang sudah mengeras sejak awal ke lubang memeknya.

"Aaarrrggghhh.. aaahhh.. nikmat sekali kak, kontol kamu besar ya tidak seperti punya ayahmu" desahnya merasakan kenikmatan.

Aku terus menggenjotkan kontolku ke depan belakang dengan cepat hingga kurang lebih 15 menit dan akhirnya tante Mona mencapai puncaknya, namun aku belum mencapai orgasme.

"Hhhmmm.. aku belum mencapai puncak nih tan" keluhku.

Tante Mona seperti orang yang merasa kelaparan, dengan gesitnya dia segera melumat kontolku. Dia benar-benar sudah berpengalaman soal menghisap dan mengemut penis, aku begitu merasakan kenikmatan yang amat luar biasa saat dia mengemut dan menjilati kontolku. Setelah kurang lebih 5 menit dia mengulum kontolku dan akhirnya aku mencapai puncaknya.

"Ooouuuhhh.. aaahhhh.. akhirnya tan aku mau mencapai puncak.. aaaarrrrgggghhh" eranganku yang mencapai puncak dan aku keluarkan spermaku ke dalam kerongkongan mulutnya tante Mona.

Setelah aku kejadian itu, pada akhirnya tante MOna dan ayahku jadi menikah. Aku mendapat jatah berhubungan badan dengan tante Mona sebulan sekali rutin, tante Mona sadar bahwa kontolku lebih bisa memuaskan daripada kontol ayahku. Namun dia tetap mencintai ayahku.

Sabtu, 05 Januari 2019

Cerita Dewasa Lesbi Suster Hot

Cerita Dewasa Lesbi Suster Hot

Hallo guyss, kali ini ada cerita dewasa dari salah satu akun gmail yang telah mengirimkan cerita sexnya agar bisa di publiskan. Akan tetapi nama akan menjadi privasi dan berubah jadi nama samaran ya guyss, selamat membaca para pecinta Cerita Sex. Seorang perawat yang baru saja bekerja bernama linawati, dengan umur yang sudah menginjak 22 tahun, dirinya telah baru saja lulus dari akademi perawat yang teletak di salah satu kota yang lumayan kecil di jawa timur. Akan tetapi setelah lulus saya telah mendapatkan pekerjaan di rumah sakit swasta besar dan juga ternama di salah satu kota Bandung, setelah satu bulan melewati masa training disanlah kisahku dimulai.

Saya tinggal di dalam rumah Tante, keseluruhannya saya telah tinggal 6 bulan di kota ini untuk mencari kerja, untunglah pada akhirnya saya mendapatkan pekerjaan di Rumah Sakit itu. Menjadi orang baru di Rumah Sakit ini, saya banyak mendapatkan rekan serta kenalan baru. Diantaranya ialah Kepala Bangsal Bedah, atasan saya langsung, di mana saya diletakkan. Ibu mega kami memanggilnya, umurnya hampir 40 tahun, namun sampai saat ini belumlah menikah pun, meskipun jika saya lihat sebetulnya Kepala Bangsal saya ini mukanya cantik, bentuk badannya sensual serta kulitnya putih bersih. 

Saya dengar selentingan berita dari rekan-rekan di sini, jika Ibu mega sebetulnya simpanan salah satunya dokter Kebidanan serta Kandungan yang kerja di Rumah Sakit yang sama. Menjadi Kepala Bangsal Bedah, Ibu mega begitu disegani, sebab tidak hanya dengan fisik semakin besar dari rata-rata perawat bangsal Bedah, pun mulutnya begitu pedas, terpenting untuk perawat-perawat yang lainnya. Yang lebih menarik juga, gelang serta cincin berlian di tangan, pun arlojinya yang bertuliskan “Cartier”. Pantaslah jika isu itu benar, Ibu mega simpanan salah satunya dokter kaya yang kerja di Rumah Sakit ini. Menjadi perawat, kami terkadang bergiliran bekerja jagalah 24 Jam, kesukaannya di bangsal saya yang bergiliran jagalah ialah perawat senior serta junior, tidak kecuali saya serta Ibu mega. 

Dalam satu hari, saya mendapatkan agenda pekerjaan jagalah bersama dengan Ibu mega. Sebetulnya saya begitu takut, sebab tidak hanya saya masih tetap baru, saya pun “ngeri” kepadanya. Ada yang membuat saya terperanjat, saat semua perawat rekan-rekan saya tuntas bekerja jam 14.00, tinggal kami berdua menjadi perawat jagalah hari itu. 
“Dik Wati”, Ibu Winanti menyebut sekalian tersenyum. 
“Iya, bu”, kaget saya. 
Sebelumnya, terpenting saat bekerja pagi hari, belum pernah sekalinya Ibu mega menyebut saya serta rekan-rekan yang lainnya dengan panggilan “Dik”, ditambah lagi memanggilnya sekalian tersenyum. Mimpi apakah saya ini? 
“Ini, statusnya diperlengkapi serta check lagi Suhu serta Tekanan untuk kamar 9 serta 10”. 
“Iya, Bu”, saya seperti kerbau dicocok hidung. 

Selekasnya saya kerjakan perintahnya. Sesudah tuntas, menyusul perintah-perintah “manis” yang lainnya, saya cuma dapat menuruti. Meskipun saya iri pun kepadanya, sebab Ibu mega cuma duduk manis di meja counter depan Bangsal Bedah sekalian melihat TV.Pada akhirnya tuntas pun perintah-perintah “Sang Ratu”, jam telah tunjukkan jam 17.00, waktunya agenda kunjung pasien. Pada sekarang ini umumnya perawat jagalah waktunya untuk beristirahat serta mandi sampai selesainya agenda kunjung pasien. Saya kecapekan, tetapi berikut resikonya menjadi perawat yunior. Saya masuk ke kamar jagalah perawat, serta merebahkan diri untuk tidur-tiduran sebantar sekalian beristirahat. 

Sesaat kemudian Ibu mega masuk ke kamar pun, ia pun ikut-ikutan rebahan dalam tempat tidur yang lainnya. Awalilah ia menginterogasiku. 
“Sudah miliki pacar, dik?”. 
“Dulu, Bu”. 
“Dulu waktu sekolah di Akper pun tinggal di asrama Akper?”. 
“Iya”. 
Ibu mega ketawa, “Kenapa Bu, kok ketawa?”. 
“Hayo, dahulu waktu di asrama seringkali tonton BF bersama, tho?”. 
“Iya, kok ibu tahu?”. 
“Saya dahulu waktu masih tetap sekolah pun sama juga dengan Dik Wati”. 

Sesudah itu malah Ibu mega narasi tentang BF dengan detil serta cerita-cerita tentang main kucing-kucingan masukkan cowok ke asrama serta beberapa hal porno yang lain, sekalian tertawa-tawa. Meskipun geli di telinga mendengarnya, saya menanggapinya dengan malu-malu oleh karena itu yang kami seringkali kerjakan di asrama. Meskipun saya jadi tidak jenak, namun juga senang dengarkan cerita-cerita itu sekalian mengingat saat-saat sekolah. 
“Dik Wati, sempat “main” dengan pacarnya?”. 
“Belum, Bu”. 
“Oh, kelak saya ajarin”. 
“Baik, Bu”, jawab saya sembarangan, saya fikir itu kan cuma cerita-cerita omong kosong, meskipun saya pun tidak miliki kemauan serius mendapatkan pelajaran dari Ibu mega. 
“Saya mandi dahulu, Bu”. 
“Ya, kelak saya menyusul”. 

Saya ambil handuk serta masuk ke kamar mandi. Wah, asik pun, jika Bu mega ingin mandi bersama dengan saya. Sebab dahulu waktu di asrama, saya seringkali juga mandi berdua dengan rekan-rekan, seperti juga dengan rekan-rekan yang lainnya. Terkadang kami seringkali takjub dengan tubuh serta payudara rekan yang lainnya, meskipun seringkali mandi bersama dengan belum pernah berlangsung seperti yang berada di BF, apakah itu namanya? Lesbian?

Di tengah saya mandi, terdengar ketukan di pintu. 
“Siapa, yaa?”. 
“Saya, dik”, nada Ibu mega menyahut. 
Saya bukakan pintu kamar mandi, tentunya saya dalam kondisi telanjang. Ibu mega langsung masuk ke kamar mandi, serta melepas pakaiannya satu-satu. Saya berhenti mandi serta cuma memandanginya, saya berdebar-debar ingin lihat “peralatan” Ibu mega.Nyatanya benar serta nyatalah Ibu mega saat ini telah telanjang juga bersama dengan saya di kamar mandi. Kulitnya putih mulus, payudaranya cukup besar, mungkin cup B, perutnya rata serta rambut kemaluannya lebat. Di banding kulit saya yang lebih coklat serta rambut kemaluan saya yang cuma sedikit, saya iri juga. 
“Kenapa dik?”, Ibu mega membangunkan lamunan sekejap saya, sekalian tersenyum. 
“Ndak, Bu, tidak apa-apa”. 
“Oh, rambut yang bawah cuma dikit yaa”, sekalian tangannya menjulur mengelus liang surgaku. 

Saya terkesiap, ada perasaan aneh pada vagina saya saat tangannya mengelus lembut vagina saya. (saya ingat dahulu saat di asrama, terkadang jika mandi bersama dengan rekan yang lainnya, seringkali guyonan mengelus vagina rekan lainnya semacam itu, tetapi tidak ada perasaan apa-apa). Dengan refleks juga saya menarik napas panjang serta tutup mata. 
“Kenapa dik, nikmat?”. 
Saya buka mata serta tersipu malu. 
“Oh.., tidak pernah yaa”, Ibu mega tersenyum, sekalian matanya menyempit memerhatikan saya. Saya pun cuma tersenyum sekalian menggigit bibir. Saya ingin Ibu mega mengelus vagina saya kembali seperti barusan, kata saya dalam hati. 

Saya terasa itu berlangsung demikian cepat, tidak diduga Ibu mega berjongkok di depan saya serta mulai menjilati vagina saya. Saya kaget serta keenakan. Sekalian berdiri, saya sandarkan punggung saya ke tembok kamar mandi. Saya tidak dapat serta tidak ingin menolaknya, saya ingin menikmatinya. Ibu mega begitu pakar menjilati vagina saya, dengan lembut ia buka lebar paha saya serta buka pelan-pelan bibir kemaluan luar saya. Saya rasakan begitu nikmat dibawah sana, di kemaluan saya, saat lidah Ibu mega menjilat-jilat kemaluan sisi dalam saya, benar-benar nikmat serta sangat nikmat, terpenting saat bibirnya yang basah menjilati klitoris saya. Saya tutup mata menikmatinya, payudara saya ikut juga mengeras, ke-2 tangan saya meremas pundak Ibu mega yang berjongkok di muka saya. Saya tutup rapat-rapat bibir saya, sekalian menggigit kencang bibir saya, sangat nikmat, sangat nikmat. Cuma napas saya lama-lama semakin berat, serta lama-lama saya semakin terasa kemaluan saya semakin basah. 

“Ooohh..”, saya mendesah cukup keras, saya terasa melayang-layang serta lupa semua dalam sekejap. Kemaluan saya sisi dalam berasa berdenyut-denyut berkelanjutan, badan saya terasanya melayang-layang dengan semua perasaan yang sempat saya alami. Untuk kali pertamanya saya terasa mulai tahu kemaluan saya sendiri serta kenikmatannya yang mengagumkan. itu namanya orgasme, yaa. 

“Sudah, dik?”, nada Ibu mega menyadarkanku. 
“Maaf, Bu”, sekalian saya memeluk badan telanjang Ibu mega yang telah kembali berdiri di depan saya. Saya terasa ingin dibelai serta dicintai, di samping badan saya yang mendadak lemas, sesudah rasakan puncak kesenangan barusan. 
“Tidak apa-apa”, Ibu mega masih tetap tersenyum. 
“Wajar saja, tak perlu khawatir”, Dia meneruskan. Sekalian dipeluknya badan saya yang telanjang. Ia capai kepala saya, serta diciumnya bibir saya dengan lembut, lidahnya masuk juga ke mulutku, menjilati lidah saya. Untuk kali pertamanya juga saya rasakan ciuman dari seseorang wanita, ditambah lagi wanita masak serta memiliki pengalaman seperti Ibu mega. Nyatanya lebih nikmat serta halus, di banding saat kali pertamanya saya rasakan ciuman dari seseorang cowok. 
“Ayo dik, segera mandinya”. 
“Nanti malam giliran saya ya”, Ibu mega tersenyum penuh makna pada saya. Saya mengangguk perlahan, serta ingin “waktu” itu selekasnya hadir. 
Malam itu, sesudah tugas-tugas menjadi perawat sudah tuntas, di kamar tidur perawat saya belajar “melayani” Ibu mega, nyatanya indah sekali. Benar-benar hari itu, sore serta malam yang tidak terlewatkan. 

Mulai sejak itu juga, Ibu mega jadi tutor saya. Saya tetap menanti saat-saat pekerjaan bersama dengan, kembali dengan Ibu mega serta kencan-kencan kami yang lain di luar jam dinas Rumah Sakit, share waktu dengan “suami” tidak sah Ibu mega, dokter Cornelis, seseorang dokter Kebidanan serta Kandungan.

Senin, 31 Desember 2018

Cerita Dewasa Menyuruh Temanku Perkosa Istriku Yang Selingkuh

Cerita Dewasa Menyuruh Temanku Perkosa Istriku Yang Selingkuh

Hallo guys, berikut ada cerita dewasa kisahku yang lumayan mengharukan dan membuatku merasa bersalah. Kita mulai ceritanya ya guyss, telah 2 tahun lamanya saya membinah rumah tanggaku dengan istriku yang bernama vera, ia dalah istriku yang sangat cantik dan jelita bagaikan permaisuri yang ada di kayangan, hahahaha. Saya bertemu dengannya pertama kali di bangku perkualiahan ketika sudah mengenal lumayan lama baru saya berani menembak dirinya dan dari bangku perkuliahan kami sudah menjalin hubungan pacaran. Istriku ini dulunya ialah ayam kampus yang sering ingin di rebut oleh lelaki lainnya namun keberuntungan ada dipihakku. Yang dimana akhirnya sayalah yang berhasil meminang dan mengesahkan hubungan kami di atas pelaminan.

Vera adalah istri yang sangat menurut dengan gaya rambut yang panjangnya sepundak, kulitnya sungguh putih terawat dan ukuran payudara yang sangat menggoda 36B cukup merangsangku ketika melihat kearah dadanya. Akan tetapi pada 2 bulan belakangan ini saya merasa curiga dan memiliki perasaan yang buruk karena pada belakangan ini dirinya sering pulang lebih malam dan pada setiap minggunya dirinya beralasan ke luar kota. Sedangkan apabila dirumah dirinya selalu sibuk dengan hpnya saja tanpa ada berbincang denganku suaminya sendiri.

Menyuruh Temanku Perkosa Istriku Yang Selingkuh

Suatu hari dia tengah kerja dengan laptopnya di dalam rumah. Waktu dia tengah ke kamar kecil, saya mengambil peluang. saya membuka file komputernya. Nyatanya vera tengah chatting dengan seseorang pria serta obrolannya begitu mesra. Saya membacanya tergesa-gesa, perasaanku tidak karuan. Serta jadi makin prah saat saya membaca obrolannya semacam ini: thanx ya cantik, tempo hari di Bandung enak sekali deh. Jadi pingin cek in kembali sama kamu. Ah hilang ingatan nyatanya vera selingkuh! Saya berupaya meredam diri serta berlaku seakan tidak tahu apa-apa sekalian berfikir apakah yang perlu kulakukan. Esoknya tidak diduga terbesit satu gagasan hilang ingatan. Saya tidak ingin berlangsung pertikaian ditambah lagi mendamprat lelaki itu. Tidak ada fungsinya! Saya hanya ingin berikan pelajaran buat istriku. Saya selekasnya mengontak beberapa kawan-kawan lamaku dahulu. Handoko, Budi, Robin, Cipto. Kami dahulu suka sekali pesta sex sewaktu kuliah. Serta sekarang saya akan kontak mereka kembali untuk rencanaku memberikan pelajaran buat istriku yang selingkuh. Satu gagasan untuk memperkosa istriku bergiliran! Gagasannya: saya akan ngajak istriku vera untuk cek in dalam suatu hotel. lantas saya akan berpura-pura keluar untuk beli rokok. 15 menit lalu kawan-kawanku akan masuk kamarku dan selekasnya mengerjakan istirku.

Selesai gagasan, di hari Sabtu saya sukses ngajak vera cek in satu hotel diJakarta Utara. 
“Sekali-kali bulan madu kembali dong sayang”ť kataku genit. Vera rupanya menyongsong senang inspirasi ini. saya cek in seputar jam 14.00 serta bermesraan sesaat dengannya. 

1 jam lalu gagasan mulai digerakkan. Handoko serta yang lain telah menanti di lobby. Saya ijin untuk keluar beli rokok. Kebetulan di hotel ini pintu kamarnya tidak diperlengkapi dengan lubang pengintip. Jadi kalao ada tamu yang ketok pintu, vera tidak dapat lihat siapa di luar. 

Saya keluar dengan fakta beli rokok. Sedang vera saya suruh untuk kenakan pakaian seksi. “kamu janganlah pakai pakaian ya sayang. Pakai BH serta CD saja atau pakai lingerie tetapi janganlah pakai daleman. Agar seksi. Nanti papah balik kita langsung main”ť pintaku. vera tersenyum genit sambil sepakat dengan usulku.

Saya turun ke lobby serta lakukan brifing paling akhir dengan Handoko, Budi, robin serta Cipto. Mereka telah mempersiapkan satu lap serta obat bius. Gagasannya kelak mereka akan mengetok pintu kamarku. vera tentu menduga itu saya. Dia telah kusuruh kenakan pakaian seksi. Serta waktu membuka pintu, Handoko cs akan langsung menyrebu masuk serta membekap vera dengan obat bius lalu menggarapnya. 

Tok tok tok… pintu diketuk serta selang beberapa saat di buka perlahan. vera cukup ngumpet dibalik pintu sebab dia hanya 
menggunakan tanktop serta CD. Cipto langsung nerobos masuk serta secepat kilat membungkam vera dengan obat biusnya. Belum istriku teriak, dia telah keburu teler. 

Ke 4 pria itu selekasnya menjalankan pekerjaannya. Mereka membawa vera duduk di kursi serta mengikat ke-2 tangannya 
sebelumnya setelah melepas tanktopnya. Sesudah itu Handoko memberi obat penawar bius yang diolesi di muka hidung vera. Sesaat vera terjaga serta kaget mengerti dianya tengah terikat tiada pakaian dikelilingi 4 bertopeng. 

Sebelum sudah sempat teriak, Cipto telah keluarkan pisau duluan serta meneror istriku, “heh kamu janganlah teriak, atau kami akan bunuh kamu saat ini juga. Jadi janganlah macam2” bentaknya. vera yang ketakutan setengah mati langsung menurut. “Pokoknya lo nikmatin saja, layanin kita2 sampai senang serta janganlah teriak atau lapor siapa2, terkecuali lu ingin mati sekarang”ť timpal Budi. Handoko lalu tutup mata vera dengan kain hitam. Istriku sekarang dalam keadaan duduk terikat tangannya serta matanya ditutup. 

Sekarang giliranku masuk kamar. Ah hilang ingatan! Istriku cuma menggunakan CD yang telah turun sedengkul serta tiada BH. Rancana step awal sukses! Matanya tertutup rapat serta dia terlihat ketakutan. Ini satu panorama yang menggairahkan. Ke 4 kawanku saat ini telah mulai membuka celana serta tampak kontol2 mereka telah mulai mengacung keras. Ah permainan selekasnya diawali! 

Handoko, Budi, robin, Cipto mengitarinya. “heh dengarkan ya manis, jika kamu diem serta nurut kita ikut tidak akan nyakitin kamu. Jadi kamu turutin saja apakah yang kita mau”ť ancam Cipto yang memang kutunjuk jadi ketua geng perkosaan ini. Vera didudukan di kursi yang menghadap ke kasur. Handoko mengawali laganya dengan meremas-remas dada vera dari belakang sekalian menciumi pipinya. Saya dengan bebas merekam serta memphoto semua adegan ini. 

“oooohhh..jangaaan, ampuuuuun” vera memelas. Tetapi sesuai dengan instruksi dariku, Cipto mulai memarahi “heh lo ingin mati di tempat ini? Ni golok sudah tinggal sabet saja ke leher lo.. sudah lu diem saja!” bentaknya. Vera lalu terdiam. Handoko meneruskan laganya menggerayangi badan istriku. Tidak diduga Handoko menarik CD vera dengan kencang. Vera sekarang bugil seutuhnya sekalian duduk terikat tidak berdaya.

Saya tahu vera mulai begitu ketakutan. Tetapi malah itu yang membuatku semakin terangsang. Saya ingin lihat dia 
disiksa dengan seksual, bergiliran sampai lemas. Saya ingin lihat dia disetubuhi tiada henti semalaman, diikat tangannya, kakinya, disodok memeknya dengan beberapa kontol serta diberi muka serta tubuhnya dengan sperma. Saya ingin lihat vera dientot bergilir. 

Doni sekarang buka celananya serta tampak kontolnya yang telah ngaceng dengan urat-urat di sekitarnya. Dia 
berdiri di muka vera. “ayo manis, isep ni”ť tuturnya sekalian menjambak rambut vera serta mendesak kepalanya ke kontol yang telah keras itu. 
“mmmmmmmmppfffffff”…..ť Karena takut, vera cuma menurut saja serta sekarang dia tengah menyepong kontol Doni. Saya 
memphoto adegan itu dengan kontolku yang ngaceng juga. Doni menjambak serta meredam kepala istriku sekalian menyodok-nyodok mulut vera dengan kontolnya. Aahhh nafsuin sekali! 
5 menit lalu Doni membenamkan kepala vera ke kontolnya serta crrooot..crooott.. Doni menyemburkan spermanya ke mulut istriku. Vera terbatuk batuk dengan mulut belepotan peju. Saya merekamnya dengan video di hapeku. Lalu handoko, robin serta cipto ikut lakukan hal sama. Mereka menggilir mulut vera serta memuntahkan peju di mulutnya. 

Lebih 30 menti istriku diminta giliran mengoral 4 pria itu serta sekarang mereka melepas tali ikatannya. Saya kembali 
ngumpet di kamar mandi sebab mereka akan buka tutup mata vera. Ke 4 pria itu sekarang kembali menggunakan masker di muka supaya tidak dikenali. 

Mereka menarik vera ke ranjang serta menelentangkan tubuhnya yang telanjang bundar. handoko kembali mengikat tangan vera ke dua ujung ranjang serta kakinya. Vera sekarang terlentang terikat membuat huruf X. handoko menyengaja menarik kencang ikatannya supaya vera tidak dapat berdaya. Ke 4 pria itu mulai menegrubuti istriku. 

Cipto mulai menciumi muka vera sesaat tangannya memilin puting susunya. Sesaat robin serta budi menciumi serta menjilati paha vera sekalian mengelus2 paha serta betisnya. Budi menciumi perut vera sekalian jemarinya menyelinap ke bibir vagina serta mainkan klitoris istriku. Vera sekarang tampak meronta-ronta tetapi tidak dapat berdaya sebab terikat. Kadang-kadang dia teriak, entahlah meredam sakit atau meredam nikmat. Yang pasti dia sekarang 
tengah dekurubuti oleh 4 pria haus sex. 

“toloooong..janganlah perkosa saya”ť vera berulang-kali meminta. Tetapi ke empat pria itu makin brutal mainkan badan istriku. Budi sekarang bahkan juga tengah buka lebar memek istriku. “wah memek lu lebar sekali..lu seringkali dientot ya?” kata budi sekalian ketawa. 

Cipto asyik meremas serta menggigit puting susu vera dengan ganas. “toket lu mantep sekali nih, jika diestrum tentu akan asik” tuturnya. 

Hampir 15 menit adegan itu berjalan, handoko sekarang ambil tempat di muka istriku. “ayo manis kita ngentot saat ini,” tuturnya. Handoko masukkan kontolnya ke liang vagina istriku. “aaahhhhhhhhhhhh sakiiiiiiit”ť rintih vera. Tetapi handoko tidak perduli. Rintihan itu malah meningkatkan nafsunya. Pantatnta mulai digenjot, kontolnya mulai memompa memek istriku. Lama-lama semakin cepat. Saya lihat vera cuma dapat meringis serta terkadang buka mulutnya dan dikulum oleh mulut handoko. Sesudah dientot hampir 30 menit, pada akhirnya handoko memuntahkan spermanya diatas perut istriku. 

Ke tiga pria lainnya selekasnya memperlakukan hal sama pada vera. Dia digilir habis2an serta disemprot sperma. Budi menyemprotkan spermanya di muka istriku serta sesudah itu memerintah istriku untuk bersihkan kontolnya dengan mulutnya. 
“ayo isep ni sampai bersih” kata budi. 

Vera sekarang dilepaskan ikatannya serta diminta berlutut di lantai depan kasur dalam kondisi bugil serta lemas. Saya ikuti adegan ini dengan melihat lewat pintu kamar mandi yang kubuka dikit. Cemas kalau-kalau tutup matanya lepas. Vera masih tetap lemas tetapi budi serta robin menyeretnya. Adegan itu membuatku semakin terangsang. Istriku yang bugil tidak berdaya diseret-seret di lantai. Kebetulan kamar hotel cukuplah luas sebab saya pesan kamar suite. Dia lalu diminta nungging. Saya dapat lihat vera mulai cemas mukanya.

“nah kita ingin rasain enaknya pantat lo”ť kata handoko
2 tahun kami menikah vera memang tidak ingin lakukan anal. Kesempatan ini saya akan melihat bagaimana kontol kontol kawanku ini menjebol anus istriku satu-satu serta tentu saja saya ikut mendapatkan giliran. 

“buka pantat lo cepetaaan”ť bentak robin. Vera lalu menggenggam kedua iris pantatnya sekalian menariknya hingga lubang anusnya sekarang semakin jelas tampak. 4 lelaki itu lalu ketawa keras. Saya dapat lihat vera mulai ketakutan tetapi saya makin terangsang jadinya. Lantas cipto mengoleskan V Gel di dubur istriku, cukuplah banyak nampaknya. Mungkin sebab kontol2 besar mereka akan tembus anus istriku jadi diperlukan banyak pelumas. 

Handoko lalu mencapai kedua tangan vera serta mengikatnya seperti seekor bebek. “Nikmatin saja ya sayaang.. kita ingin merasakan pantat seksi lo!” kata handoroko. Vera makin ketakutan serta lemas. Tidak apalah! Saya ngaceng setelah memandangnya. 

Diawali dengan robin, pemuda Flores yang kekar serta miliki kontol terbesar ini mulai menggesek2an kontolnya pada lubang anus istriku. Serta pelan2 kontol gede itu mulai menerobos anus vera. Terdengarlah teriakan panjang yang begitu seksi. Muka vera meredam sakit mengagumkan, mulutnya menganga dengan mukanya ke atas. Dia meredam sakit serta sekaligus juga nikmat. 

Robin selalu menggenjot kontolnya di anus vera sekalian meremas toketnya dari belakang. Doni yang tidak tahan kembali,
ambil tempat di muka istriku serta menjambak rambutnya. “isep ni kontol sampai keluar ya”ť bentak budi. Serta sesudah robin ngecrot, budi ambil tempat nyodok anus vera, handoko sekarang yang giliran meminta disepong. Demikian selanjutnya bergiliran sampai istriku hampir tidak sadarkan diri.

Budi lalu melepas ikatan tangannya. Dia dibiarkan terbaring di lantai dengan peju yang belepotan di pantat serta mulutnya. Saya makin ngaceng lihat adegan ini sambel merekamnya dengan videocam. 
“sekarang lu gua kasih pilihan. Jika elu lapor polisi, kita sudah tahu alamat lu serta kita siap culik elu kapan saja. serta elu tentu akan malu kan jika ketauan dapet aib seperti gini? Udahlah mending lu diem saja, anggep saja ini semua tidak berlangsung serta kita tidak akan ganggu lo kembali. Bagaimana?”ť kata cipto. 

Vera cuma diam saja tidak berdaya. “ampuuuunn.ť” tuturnya lirih. Handoko lalu memerintah untuk membawa vera ke kamar mandi. “ayo saat ini lu mandi dulu”ť kata handoko. Istriku diseret ke kamar mandi serta dimandikan oleh budi, Joko serta robin. Sesaat saya serta cipto mempersiapkan siksaan selanjutnya: satu alat setrum. 
Lumayan lama mereka memandikan vera. Nyatanya vera tengah diikat tangannya ke atas shower sekalian tubuhnya 
diberi sabun serta dikobel memeknya. “ayo manis sini dimandiin ikut dalemnya”ť kata handoko sekalian mengorek vagina istriku. 

Selsai dimandikan, mata vera kembali ditutup serta diseret ke kasur. Cipto kembali mengikat tangan serta kaki vera 
membuat huruf X. akan tetapi kesempatan ini kaki vera di buka lebih lebar. Bahkan juga memeknya sekarang tampak lebih menganga lebar. Budi lalu ambil kabel2 dengan jepitan di ujungnya. Dia lalu menjepit puting susu Vani serta beberapa kembali dijepitkan dibagian klitoris. 

“nah saat ini kita main main sedikit, tidak sakit kok manis” kata handoko. 
“tadi enak tidak dientot rame-rame?” bertanya cipto. vera cuma diam saja tidak menjawab. Dan 
bbzzzzzzzzzzztttt…. saluran listrik mengalir ke sekujur pentil serta klitorisnya. 
“aaaaaaaawwwwwhhhh”ť vera teriak sekalian meringis serta meningkatkan pantatnya. Toket serta memeknya disterum! 
“jawab.. enak tidak barusan dientot?”ť bentak cipto. 
“mmmm…iyaaaaenaak”ť jawab vera lirih serta diterima tawa kami. 
“ngemut kontol gue enak tidak?” timpal budi serta vera cuma dapat menjawab perlahan “iyaaa enak bang”ť dan saluran listrik kembali menyengatnya. 

Siksaan ini selalu berjalan sampai vera pada akhirnya lemas serta hampir tidak sadarkan diri. Tetapi saya belumlah senang. Menjadi penutup, saya memerintah mereka untuk kembali memperkosa vera bergiliran. 

Jam 23.00, semua tuntas serta kami tinggalkan kamar. Saya ikut juga keluar serta 15 menit lalu saya masuk kembali dengan scenario narasi yang telah kami rancang. Pintu kamar kuketuk danagak lama baru di buka. Kulihat vera dengan muka kucel, matanya sembab. Saya pura2 menanyakan, “ada apakah sayang? Kamu nangis ya? Maaf papah lama beli rokoknya. Barusan papah dicopet tetapi copetnya ketangkep trus papah mesti ke polisi buat 
laporan. Hape papah lobat jadi tidak dapat telpon” vera diam saja serta cuma menjawab “aku..tiba2 tidak enak tubuh. Saya istriahat saja ya malem ini?” 

Akupun menyetujui serta berlagak bodoh sekalian tersenyum kecil. itu hukuman kecil karena kamu selingkuh di belakangku.

Kamis, 27 Desember 2018

Cerita Dewasa Bersetubuh Dengan Wali Murid Di Hotel

Cerita Dewasa Bersetubuh Dengan Wali Murid Di Hotel

Hallo guys, berikut cerita diriku yang seorang duda, yang dimana menjadi seorang kepala keluarga sekaligus merangkap menjadi ibu rumah tangga. Saya telah di tinggal oleh istriku karena ia mengalami kecelakaan dan meninggal dunia, sebelum meninggal dunia kami telah di karuniakan seorang anak laki-laki yang bernama hery yang pada saat ini akan memasuki kelas 1 SD di salah satu sekolah swasta. Ketika di tinggal oleh istriku saya harus belajar menjadi ibu rumah tanggal dengan mengurus anak saya dan pekerjaan rumah ketika pulang kerja dari kantor. Jujur dalam kehidupanku setelah di tinggal oleh istriku sangatlah menyedihkan sekali karena dimana saya harus bekerja dikantor dan juga harus bekerja dirumah serta mengajarkan anak saya untuk mengerjakan PR nya.

Dan terkadang saya juga merasakan apakah masakan yang aku sajikan itu enak atau tidak, karena saya tahu bahwa masakan yang aku sajikan tidak sempurna sama halnya dengna istriku tercinta yang telah pergi ke alam sana. Meskipun mendapatkan perasaan itu saya tidak pernah mendapatkan komplin dari anakku tersayang hery yang saya tidak tahu iya rasakan ketika memakan makanan ang telah saya sajikan itu. Saya terkadang mencicipi sendiri masakanku yang dimana terkadang merasa asin dan ada masakan yang gosong karena terlalu lama saya angkat dari kuali.

Bersetubuh Dengan Wali Murid Di Hotel

Pada suatu saat, hery menjumpai saya untuk memberitahuku bahwa saya harus berkunjung ke sekolah untuk menemui gurunya yang ingin berjumpa denganku. Dengan rasa yang terkejut dan bertanya-tanya dengan heran, dalam pikiranku telah berpikir yang tidak-tidak. Saya terus bertanya kepada anakku, apakah dia melakukan suatu kesalahan di sekolah sehingga saya harus menghadiri panggilan tersebut. Di hari yang telah dipastikan, saya pergi ke sekolah anakku untuk berjumpa Ibu mery serta pada saat saya berjumpa dengannya, saya jadi cukuplah grogi serta untunglah perasaan itu bisa kukuasai sebab bagaimana juga saya pergi dengan anakku serta saya tidak mau anakku membaca kegugupanku itu. Pada akhirnya saya dipersilakan duduk oleh ibu guru yang nyatanya belumlah menikah itu sebab saya tidak lihat cincin kawin di jarinya dan diakuinya sendiri jika ia masih tetap single saat kupanggil ia dengan panggilan Ibu mery. Di dalam pembicaraan itu, ia bercerita tentang pelajaran Jerry yang cukup ketinggalan dengan murid-murid yang lain. Nyatanya baru ketahuan dari pernyataan hey, jika meskipun ia rajin kerjakan PR tapi ia belum pernah mengulang-ulang pelajarannya sebab saatnya dihabiskan untuk bermain Play Station yang kubelikan untuk dia satu hari sesudah kepergian istriku agar ia tidak menangis kembali. Pada akhirnya didapat persetujuan jika Ibu mery akan memberi anakku les privat serta sesudah kami saling setuju tentang harga perjamnya, kami bersalaman serta tinggalkan sekolah itu. Saat perjalanan ke rumah, saya tetap ingat dengan muka imut guru muda anakku itu. Sore harinya sesudah saya tidur sore, saya ingat jika 1 jam yang akan datang guru anakku akan tiba serta bermakna saya harus juga bersiap-siap untuk menyambutnya. Sesudah guru Jerry hadir serta saya mengajaknya bercakap untuk sesaat, ia lalu meminta izin untuk mengawali les privat untuk anakku. Saya cuma mengangguk serta tinggalkan mereka berdua. Saya mulai membaca koran Kompas hari itu serta saya sesekali mengambil pandang pada guru anakku yang tengah mengajarkan mery. Kulihat jika Ibu mery ini cukuplah pemahaman dalam mengajarkan anakku yang terkadang masih tetap cukuplah bingung akan materi yang dipelajarinya. Dua jam berlalu telah serta kusadari jika jam privat les telah selesai serta saat ia akan pulang ke tempat tinggalnya, saya tawarkan padanya untuk mengantarkannya sehubungan hari telah malam serta saya tahu benar jika tidak lagi ada kendaraan umum pada jam-jam demikian di seputar rumahku. Pada akhirnya saya keluarkan mobil BMW kesayanganku serta sesudah saya bersiap-siap, saya memerintah hery untuk mengulang-ulang pelajaran tadi sesaat saya akan mengantar gurunya pulang. Hery menuruti perkataan ayahnya serta tiada basa basi, ia mulai buka kembali bukunya serta mengulang-ulang materi yang barusan dipelajarinya. Saya lalu mulai memerintah Ibu mery untuk masuk dan saya mengawali mengendarai mobil itu sesudah saya tutup pintu gerbang tentu saja sebab saya tidak memiliki pembantu rumah tangga waktu itu. Di dalam perjalanan, kami terlibat percakapan tentang semuanya serta tentang pergantian yang dihadapi hery sesudah ibunya wafat. Kelihatannya Ibu mery serius sekali dengarkan curahan hatiku yang kesepian sesudah ditinggal oleh istriku. Tidak diduga saat kami tengah asik terlibat percakapan, saya lihat selintas seseorang anak kecil yang tengah lari melintas hingga dengan secepat kilat, saya langsung mengerem dengan mendadak serta pada saat saya mengerem mendadak itu, sebab Ibu mery lupa tidak menggunakan “Seatbelt”, ia langsung jatuh dalam pelukanku. Ia kelihatannya malu sekali sesudah peristiwa itu tapi sesudah saya katakan tidak apa-apa, ia kembali seperti yang lalu serta saat ini kami kelihatannya makin akrab serta saya jadi begitu kaget disaat ia meminta tolong untuk pergi ke motel paling dekat sebab ia ingin buang air dengan fakta jika tempat tinggalnya masih tetap begitu jauh. Saya lihat ekspresi mukanya seperti orang yang meredam suatu hingga pada akhirnya saya menyepakati untuk pergi ke motel paling dekat untuk mengakhiri ‘bisnis’nya. Pada akhirnya kami ada dalam suatu motel murah yang tidak jauh dari tempat saya mengerem mendadak barusan. Sesudah ada di kamar, saya langsung duduk di pinggir ranjang sesaat Ibu mery dengan kecepatan yang mengagumkan langsung pergi mengarah toilet yang ada di kamar motel itu. Beberapa waktu lalu, saya dikejutkan oleh Ibu mery yang keluar dari dalam toilet dengan mendadak. “Bu.. ada apakah? ” saya mendadak grogi bercampur kepingin lihat badan Ibu mery yang begitu indah itu. Tetapi tidak diduga mery menarikku serta langsung mencium bibirku. Kelihatannya saya ingin meledak! Ibu mery yang tingginya 172 cm, rambut panjang serta tubuhnya prima sekali, padat, keras, dikit berotot perut, intinya seksi sekali. mery membimbing tanganku ke dadanya. Disuruhnya saya meremas-remas dadanya. Terakhir kuketahui ukuranya 34C. Lalu ia sendiri melepas pakaiannya dengan senyumnya yang merayu sekali. Saya cuma diam terpaku lihat triknya melepas baju dengan pelan-pelan dengan style yang menggairahkan sekalian menggoyang pinggulnya. Lalu terlihatlah semua sisi tubuhnya yang umumnya tersembunyi. Dadanya yang montok kencang menggantung-gantung, bulu kemaluannya yang tipis rapi, tubuhnya yang putih mulus begitu menggairahkan. Batang kejantananku juga jadi membesar mengeras lebih dari umumnya. Lantas mery kembali merapatkan tubuhnya ke arahku, ditempelkannya mulutnya ke kupingku, menjilatinya serta berbisik kepadaku, “Kamu akan rasakan seperti di surga.” Tetapi saya masih tetap berupaya menghindar meskipun sebetulnya saya ingin jika tidak pemalu. “Nanti jika rekan-rekan hadir bagaimana?” “Tenang saja saya telah katakan ingin tidur sesaat di sini serta janganlah diganggu.” Gile telah direncanakan! Tiada kusadari kemejaku telah terlepas (ke mana-mana saya biasa menggunakan baju lengan pendek) Diana menjilati perutku serta selalu ke bawah. Saya masih tetap diam ketakutan. Hingga kemudian ia buka celana dalamku. “Wah, ini akan hebat sekali. Demikian besar, keras. Tidak pernah saya lihat semacam ini di film porno.” Mery mulai mengisap-isap batang kemaluanku, belakangan ini saya tahu namanya disepong sebab almarhum istriku belum pernah mengerjakannya. “Aaarghh.. argh..” saya baru sekali senikmat itu. “Kamu mulai bergairah kan, Sayang?” Baru kali itu ia memanggilku sayang. Saya betul-betul bergairah saat ini. Kuangkat tubuhnya ke kasur kujilati liang kewanitaannya yang telah basah itu. “Nnngghhh.. ngghhh.. aaahh… ahhh” Diana mulai mengerang-ngerang. Tetapi itu membuatku semakin bergairah. Kuhisapi puting susunya yang berwarna pink. “Aahhh.. yeahh.. Tidak kusangka kamu agresif sekali.” Kumasukkan jariku ke liang senggamanya. Kusodok-sodok lama-lama semakin cepat. Diana cuma dapat mengeluh, mendesah-desah. “sayannngg, cepat masukan.. ahhnggh.. cepat, sayaa sudah tidak tahan.. ahhh.. Tetapi pelan-pelan, mery masih tetap perawan.” Saat itu saya tidak pikirkan ia perawan ataukah tidak. Saya cuma masukkan batang kemaluanku dengan pelan-pelan, sempit sekali. Betul-betul masih tetap perawan, kupikir. Liang kewanitaannya demikian ketat menjepit batang kejantananku. Hingga kemudian batang kemaluanku yang panjangnya 20 cm serta diameternya 3,8 cm ambles semua. “Aaakkhhh…” kembali lagi teriakannya membuatku semangat sekali. Kusodok sekuat-kuatnya, sekancang-kencangnya. “Ngghhh.. masss.. gede sekali.. aanggghh.. indah sekali rasa-rasanya.” Lalu kami ganti tempat nungging. “Plok.. plok.. plok..” nada waktu saya tengah menggenjotnya dari belakang. Dadanya berayun-ayun. Mery terkadang meremasnya sendiri. “Aahhh.. kembali.. bertambah cepat.. Aaahhh.. mery sudah keluar.. Kamu keluarin di luar, ya!” Selang beberapa saat akupun keluar juga. Kusemprot maniku ke sekujur badan mery yang lemas tidak berkapasitas. Dijilatinya kembali batang kenikmatanku sampai lama sekali hingga keluar kembali. Dengan nafas masih tetap mengincar terengah-engah, mery menggunakan bajunya kembali. “Kamu hebat sekali mass. Mery senang sekali. Sebetulnya saya telah jatuh cinta padamu pada pandangan pertama.” Lalu sebelum keluar kamar mery kembali mencium bibirku. Kesempatan ini saya tidak malu kembali, kucium ia sekalian kupegang payudaranya. Sesudah kesenangan bersama dengan itu, kami berpelukan untuk beberapa waktu serta kami berciuman kembali untuk beberapa lama. Sebenarnya saya telah jatuh cinta pada guru anakku semenjak pertama-tama berjumpa serta saat ini baru kusadari jika ia ikut sudah jatuh cinta kepadaku. Sesudah itu saya lalu berkata padanya, “Mery, saya ingin kamu jadi kekasihku yang bersedia mengajarkan hery..” Belumlah tuntas saya mengakhiri kata-kataku, Diana langsung menciumku serta saya membalasnya dengan penuh kemesraan serta tentu saja berlainan dengan perlakuan kami yang barusan berlangsung. film semi click di tempat ini Sesudah kami berciuman untuk beberapa waktu, mery langsung berkata kepadaku, “Mass, saya juga ingin mempunyai kekasih serta nyatanya saya saat ini menemukannya serta saya ingin menikah denganmu dan kita dapat bersama mendidik hery.” Sesudah peristiwa itu, mery seringkali pergi keluar bersamaku serta hery.

Cerita Dewasa Ayam Kampus Haus Seks

Cerita Dewasa Ayam Kampus Haus Seks Hallo para pascol semua, salam untuk kalian semua semoga semuanya di berikan berkah dan sehat selal...